30 Hari Menulis Surat Cinta

#8 | Teruntuk Si Pemain Watak

Dear, Reza Apa kabarmu? Sedang sibuk dengan promo film terbarumu bersama Vino dan Bella ya? Semoga kamu selalu diberikan kesehatan di tengah-tengah kesibukanmu yang menggunung, sayang. Surat kali ini bertema, dan sejujurnya aku bingung ketika menuliskannya. Karena aku tak yakin kamu akan membaca surat ini. Aku tidak menemukan satupun akun sosial media yang benar-benar kamu… Continue reading #8 | Teruntuk Si Pemain Watak

30 Hari Menulis Surat Cinta

#7 | Tunggu Aku, Kau Kukejar

Kamu itu ya, selalu mendahuluiku. Rasa-rasanya aku sudah berada di depanmu, tapi tahu-tahu kamu udah nongol di depan mataku. Terus melesat jauh meninggalkanku. Kupacu sekuat tenaga, sedikit lagi mencapaimu, eh, kamu bermanuver hingga hilang dari pandangan mataku. Celingak celinguk mencarimu, ternyata kamu berjengkal-jengkal jauh di sana. Entah sampai kapan aku membuntutimu, walau ku tahu sulit… Continue reading #7 | Tunggu Aku, Kau Kukejar

30 Hari Menulis Surat Cinta

#6 | Kepada Sang Pembunuh Hati

Minggu lalu, satu dari kami dipenuhi luka memar membiru di sekujur tubuhnya. Hasil karya indah tanganmu yang dengan mudahnya terayun. Kemarin, satu dari kami menatap dengan pandangan kosong. Terluka teriris pedih oleh kata-kata yang lebih tajam dari goresan belati. Hari ini, satu dari kami kembali menangis hingga sulit bernapas. Karena mata teduh kami ternodai oleh… Continue reading #6 | Kepada Sang Pembunuh Hati

30 Hari Menulis Surat Cinta

#5 | Jangan Ngambek Lagi

Aku nggak tahu apa yang udah aku perbuat. Kesalahan apa yang aku lakukan juga nggak tahu. Hari ini pekerjaan banyak, sayang. Jangankan untuk mengingat kesalahan yang entah kulakukan dengan sengaja atau tidak, tadi pagi aku sarapan apa, pun aku lupa. Kalau kamu diam-diam begini, bagaimana aku bisa tahu? Tiap ditanya, jawabanmu selalu ketus. Mukamu juga… Continue reading #5 | Jangan Ngambek Lagi

30 Hari Menulis Surat Cinta

#4 | Nding

Hai, Nding… Masih ingatkah kapan kita terakhir bertemu? Kalau aku tak salah hitung, itu setahun yang lalu, ketika aku memutuskan untuk istirahat sejenak dari hidupku yang mendekati kacau di Ibukota ini. Kau adalah orang pertama yang kucari setelah Ibuku. Kau langsung memelukku sesaat setelah melihat kedatanganku di rumahmu. Aku ingat betul komentar pertamamu saat itu,… Continue reading #4 | Nding

30 Hari Menulis Surat Cinta

#3 | Untukmu, Lelakiku

Inginku sedikit mengecap rasa. Rasa dicintai olehmu. Hanya dirimu. Tidakkah kau merindukanku? Mengapa lama kau temukanku? Aku tak pernah beranjak. Aku masih setia di sini menunggumu. Menunggumu datang menjemputku. Aku merindukanmu. Kau tahu? Setiap malam dalam setiap sujud panjangku, tak lupa kuselipkan seuntai doa untukmu. Agar rasa itu tak pernah berubah. Agar kau senantiasa rela… Continue reading #3 | Untukmu, Lelakiku

30 Hari Menulis Surat Cinta

#2 | Rinai

Kau adalah hal pertama yang kupuja sejak kutahu apa itu merindu. Mengagumimu membuat hati ini syahdu. Hadirmu selalu membuat ingatan melayang. Kepadanya yang tak pernah membuat jiwa tenang. Romantis; itulah yang terasa, sejenak setelah kehadiranmu. Karena aroma tanah basah yang mengikutimu seperti candu. Rinai, jika dia bisa merasakanmu jua, bisakah kau sampaikan padanya? Bahwa segenap… Continue reading #2 | Rinai