30 Hari Menulis Surat Cinta

#21 | Gadis-Gadisku

Hai, gadis-gadis ketje

Ini surat buat kalian, yang beberapa waktu lalu ribut minta dikirimi surat cinta olehku. Memang benar kalian ini, apa tidak cukup bertemu denganku? Dengan begitu kan kalian bisa puas memandang dan mengagumi keketjeanku. Hahaha.

Oke, begini, kalian masih ingat awal perkenalan kita? Kalau aku, jujur aku tidak ingat. Yang aku tahu, kita bekerja di perusahaan yang sama dan ditempatkan di cabang perusahaan yang letaknya berdekatan. Sangat dekat, tidak sampai sepeminuman kopi untuk mencapai tempat kalian berdua.

Mungkin awalnya kalian mengira bahwa aku adalah orang yang jutek, dan tidak bersahabat. Memang benar, kalian tidak salah, karena begitulah aku jika berhadapan dengan orang-orang baru. Mau tahu kesan pertamaku dengan kalian? Jangan harap aku menuliskan hal-hal baik. Hahahahaha.

Namamu Nia, nama panjangmu mirip dengan nama mantan istri Farhat Abbas. Kamu itu pendiam, tertutup. Lebih tertutup daripada aku. Awalnya aku enggan berurusan dengan orang sepertimu. Karena, apa jadinya dunia jika dua orang seperti kita bersatu?? Mungkin keheningan yang abadi. Tapi apa daya, posisiku sebagai juniormu memaksa untuk sering berkomunikasi denganmu. All hail to seniority.

Dan kamu, Arnis. Kamu itu…, lemot. Ibarat PC, kamu itu Pentium 3. Dibutuhkan orang dengan kesabaran segunung untuk menghadapimu. Dan aku tidak termasuk di dalamnya. Lebih sialnya lagi, kamu itu seniorku. Seniority screwed my world. Hiks.

Tapi siapa yang menyangka, kekesalanku dan Arnis pada seseorang bisa mengantarkan kita bertiga pada pertemanan yang luar biasa ini. Kita dengan tidak tahu dirinya menggosipkan orang itu. Ah, tidak, aku dan Arnis yang sibuk mengoceh, sedangkan kamu, Nia, tenang mendengarkan.

Mungkin memang kita ditakdirkan untuk bertiga, karena jika kita hanya berdua saja, suasana akan serenyah kerupuk yang baru diangkat dari penggorengan. Garing. Lain halnya jika kita sudah kumpul bertiga, dunia serasa milik kita saja. Hahaha. Ingat sebutan Segitiga Bermuda? Entah siapa yang mencetuskan nama itu pertama kali, yang pasti, itu keren.

Dua tahun sudah persahabatan ini, meski aku tidak berada di tempat yang sama lagi dengan kalian berdua, tapi percayalah, hati ini untuk kalian berdua. Eaaaaaa. Aku tidak tahu apa arti diriku buat kalian, yang jelas, bagiku kalian adalah orang-orang hebat yang terus mengingatkanku agar tak menjadi manusia pohon pisang; yang punya jantung tapi tak punya hati. Namun aku patut berbangga diri, entah ini baik atau tidak, aku berhasil mempengaruhi salah satu dari kalian untuk menyukai kopi. Sebuah pencapaian yang besar, bukan?

Teruntuk Nia Danyati & Arnis Savitri,
Maukah tetap bergandengan tangan dan jadi sahabatku sampai kapanpun?

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s