30 Hari Menulis Surat Cinta

#17 | Kepada Perempuan Yang Kusebut Aku

Halo,

Sudah tiba musim penghujan. Musim yang selalu kau sukai, musim yang selalu kau nantikan kehadirannya. Karena kau dapat menari di bawah guyuran air hujan yang membawa nuansa sendu.

Aku heran, mengapa kau sangat suka dengan hujan? Padahal hujan selalu membawa ingatan tentang kenangan lamamu. Tak jarang, kau menangis di bawah hujan. Menyamarkan air matamu dengan tetesan kerinduan itu.

Seringkali kau jatuh tersungkur. Kau terluka, lemah dan tak berdaya. Lalu air matamu kembali mengalir, seperti kemarin. Kau menatapku, seolah ingin mengulurkan tangan meminta pertolonganku. Tak perlu, sayang, kau tak perlu meminta. Aku kan selalu ada di sini menjagamu, memapahmu ketika kau terjatuh.

Tapi kau tetaplah kau, kepala batu. Berulang kali kuingatkan, kau tetap saja terjatuh di lubang yang sama. Jangan ulangi. Jaga perasaanmu, sayang. Karena orang lain tak kan pernah berkewajiban untuk menjaga perasaanmu.

Tegarlah, puan. Sesakit apapun itu, tetaplah terlihat tegar bagai karang di lautan sana. Berbahagialah, sayang. Karena bahagiamu adalah bahagiaku. Karena kau adalah aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s