30 Hari Menulis Surat Cinta

#14 | Kabar Dari Mantan

Solo-Banjarmasin, dilanjutkan dengan Jakarta-Banjarmasin. Entah berapa ratus kilometer jaraknya. Entah berapa dalam lautan yang membelah dua pulau tempat kota itu berada. Tapi karena kita; aku dan kamu sama-sama nggak bisa berenang, maka jadilah jarak ratusan kilometer dengan lautan yang membentang itu harus diganti dengan momen menunggu tiket pesawat promo. Yang mana sebenarnya sangat jarang terjadi. Hehe.

10 tahun mengenalmu, 2 tahun menjalani LDR (Long Distance Relationshitship) cukup membuat kita tahu apa artinya kangen yang sudah berada di ubun-ubun ya, Mas. Waktu ketemu yang nggak menentu, dengan kuantitas yang terbatas memaksa kita harus berpikir ekstra untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Tapi ternyata bukan hanya jarak tempat tinggal dan perbedaan waktu yang menjadi jurang pemisah kita, Mas. Ada satu hal yang bahkan jarak Jakarta-Banjarmasin tidak ada apa-apanya. Kita nggak sama, Mas. Dari awal kita berdua tahu itu, tapi kita tetap memaksa untuk mencobanya. Iya, Mas, kita menjalani LDR yang lain. Long Distance Religion. Sembahyangku 5 kali sehari di Masjid. Sembahyangmu 3 kali sehari di Pura. Banyak yang mencibir, “Sudah tahu beda agama, kenapa masih lanjut pacaran?” Ah, kurasa mereka belum tahu jika cinta itu bisa membutakan segalanya.

Kita masih percaya, suatu hari nanti kita bisa menjadi sama. Aku meyakinkan diriku, kamu bisa menjadi sama sepertiku. Mungkin kamu juga begitu, meyakinkan dirimu jika aku bisa menjadi sepertimu. Kalimatnya membuat bingung ya, Mas.

Tuhan punya caranya sendiri untuk menunjukkan kuasaNya. Keinginanmu untuk meminangku membuatku harus memilih antara dirimu dan ibuku. Bukan hal yang sulit, Mas. Karena aku nggak akan pernah menukar ibuku dengan apapun. Maka dari itu, kulepaskan genggaman kita. Sulit kuakui, karena bertahun setelah perpisahan kita pun, aku masih tetap mengandalkanmu dalam segala hal.

Hidup harus terus berjalan, saat ini aku memang terkadang masih sangat mengandalkanmu. Tapi aku sudah punya kehidupanku sendiri, begitu juga denganmu. Dua hari sebelum hari ulang tahunku, kamu mengabarkan satu hal penting padaku. Bahwa kamu menemukan seseorang yang kamu yakini bisa mendampingimu seumur hidup. Rencana pinanganmu kamu ungkapkan, terselip permohonan ijinmu padaku.

Aku harus menjawab apa? Tentu saja aku bahagia, Mas. Sungguh, ini bukan kalimat basa-basi dariku. Aku sungguh bahagia untukmu. Bukankah Indonesia harus bebas dari segala bentuk LDR? Haha…
Tapi, bolehkah cincin pemberianmu tetap kupakai? Sebagai kenangan kita pernah bahagia bersama.

Untukmu,
Edd

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s