30 Hari Menulis Surat Cinta

#11 | Penikmat Kopi

Sudahkah menikmati kopimu hari ini? Bagaimana? Bersemangatkah kalian? Apakah energi kalian melonjak drastis? Apakah kata-kata mengalir memenuhi imaji setelahnya? Kalau iya, sama.

Aku ingin tahu, bagaimana kopi yang kalian minum? Pahitkah? Manis? Atau perpaduan keduanya? Kalau aku, aku suka campuran 1 sendok kopi hitam dengan 1 sendok gula. Tidak terlalu manis.

Tidak melulu kopi hitam, terkadang jika lambung sudah tidak bisa menahan kuatnya asam, aku lebih memilih kopi dengan susu yang agak banyak. Apapun itu campurannya, asalkan tetap menikmati kopi. Krimer pun tak masalah.

Wangi aroma kopi bisa membuatku berpikir lebih jernih. Apalagi menikmatinya ketika hari hujan; sambil melihat tetes hujan di dedaunan, dan kaca yang kelamaan berembun. Pahitnya kopi mengantarkan imajinasiku ke masa lalu, yang banyak kerikil tajam menghalangi dan melukai kaki. Namun aku tetap meneguk kopi pahit itu, karena aku yakin akan ada rasa manis di dasar cangkir. Sama seperti kehidupan ini. Rintangan itu, tidak ada yang lain kecuali ku melewatinya. Karena aku yakin imbalan kebahagiaan menungguku di ujung sana. Apa kalian setuju denganku?

Surat ini teruntuk kalian, para penikmat kopi. Mungkin di suatu masa, kita dapat bertemu. Saling menghirup aroma kopi yang segar, dan mungkin menjalin romansa bersama.

Aku,
Satu di antara kalian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s