30 Hari Menulis Surat Cinta

#6 | Kepada Sang Pembunuh Hati

Minggu lalu, satu dari kami dipenuhi luka memar membiru di sekujur tubuhnya. Hasil karya indah tanganmu yang dengan mudahnya terayun. Kemarin, satu dari kami menatap dengan pandangan kosong. Terluka teriris pedih oleh kata-kata yang lebih tajam dari goresan belati. Hari ini, satu dari kami kembali menangis hingga sulit bernapas. Karena mata teduh kami ternodai oleh kenyataan sang terkasih memadu kasih dengan yang lain.

Dosa apa? Karma atas perbuatan yang mana? Beribu pertanyaan berputar di kepala. Apa yang tidak kami berikan? Cinta? Kasih sayang? Perhatian? Jika saja kami mampu membuat satu rotasi bumi menjadi 72 jam, kami pasti akan menghabiskan waktu untuk melimpahkan semua hal itu pada kalian.

Tak ingatkah pada dunia yang kalian janjikan akan jadi milik kami? Atau kebahagian yang kalian gadang-gadang akan menghiasi hari-hari kami? Apa sebab? Sudah bosankah kalian?

Kalian berpaling ketika tubuh kami sudah tak seindah dulu, padahal ada campur tangan kalian atas semua ini. Kalian meminta garis keturunan tidak terputus, sekuat tenaga kami upayakan agar orang tua kalian bisa menimang cucu. Tapi ketika banyak lemak menggelambir di paha dan perut kami, yang kalian lakukan malah bermain mata dengan wanita lain.

Satu kesalahan yang kami lakukan tak sebanding dengan ayunan tangan yang kalian hadiahkan. Satu perbuatan kami tak sebanding denga kata-kata tajam yang kalian lontarkan. Bukan hanya raga ini sayang, tapi juga hati kami yang terluka. Sedangkan kalian tidak pernah mau tahu akan semua ini.

Kekasih, tidak banyak yang kami inginkan. Bila kalian tak mampu memberi dunia, cukup berikan rasa nyaman dan perlindungan pada kami. Bila kalian tak mampu membuat kami tersenyum bahagia, cukup jangan jadi penyebab air mata membasahi pipi kami.

Kami masih bersabar karena ada banyak kehidupan yang kami pikirkan. Namun jangan menguji kami. Jika seorang ibu bisa mengutuk anak laki-lakinya menjadi batu, maka jangan salahkan jika suatu saat kami mengutuk burung kalian tak bisa berdiri lagi.

Dari kami,
Yang sering tersakiti hatinya.

Advertisements

One thought on “#6 | Kepada Sang Pembunuh Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s