30 Hari Menulis Surat Cinta

#4 | Nding

image

Hai, Nding…

Masih ingatkah kapan kita terakhir bertemu? Kalau aku tak salah hitung, itu setahun yang lalu, ketika aku memutuskan untuk istirahat sejenak dari hidupku yang mendekati kacau di Ibukota ini. Kau adalah orang pertama yang kucari setelah Ibuku. Kau langsung memelukku sesaat setelah melihat kedatanganku di rumahmu. Aku ingat betul komentar pertamamu saat itu, “Kapan bisa jadi cewek beneran, Ndung?”. Yang hanya kujawab dengan cengiran lebar.

Saling mengenal hampir seumur hidup kita membuatmu tak perlu menanyakan apa-apa tentang keadaanku. Yang kau lakukan hanyalah merebahkan diri dan menyediakan lenganmu untuk kubersandar. “Banyak-banyakin piknik, Ndung, biar nggak stres. Semuanya bakal baik-baik aja kok.” Hanya itu yang kau katakan saat itu, dan aku setengah mati menahan tangis di sampingmu.

Hampir sebulan aku di kota kelahiran kita, dan hampir setiap hari pula kau tak lupa mengajakku bepergian. Jogging di pagi hari sebelum kau berangkat kerja, dan keluar hanya untuk sekedar mencari angkringan di malam hari.

Kau tahu betul bagaimana membuat otakku kembali berada di jalur yang benar. Tak salah jika semuanya mengatakan, ‘Dimana ada dirimu, pasti ada diriku.’ Begitu pula sebaliknya. Karena hanya kau yang benar-benar mengerti segala yang ada di diriku. Semua keburukanku, carut marutnya hidupku, hanya kau yang tahu. Dan kau menyimpan semuanya rapat-rapat hanya untukmu sendiri.

Bulan Mei 2015, 2 bulan setelah aku kembali ke Jakarta, 3 hari berturut-turut aku memimpikanmu, Nding. Mimpi yang abstrak, sesekali terselip kejadian yang pernah kita alami bersama. Sungguh, Nding, tak ada firasat apapun selain rasa rindu yang membuncah. Hingga sebuah panggilan dari Ibuku yang mengabarkan bahwa kau kecelakaan. Jantungku serasa berhenti berdetak, Nding. Tak henti kurapalkan doa demi keselamatanmu. Kutitip pesan kepada semua teman-teman kita, untuk selalu mengabarkan kondisimu padaku.

Esok hari, kabar itu sampai padaku, Nding. Kabar menyesakkan yang membuatku duduk bersimpuh dengan air mata yang mengucur deras. Kabar yang membuat seluruh udara seperti tersedot keluar dari paru-paruku. Kabar yang mengatakan bahwa kau tidak akan pernah bisa lagi menemaniku, tidak akan pernah bisa lagi memberikan lenganmu untuk tempat bersandarku.

Mengapa kau tak berjuang lebih keras? Mengapa kau menyerah, sayang? Mengapa kau meninggalkanku sendiri tanpa memberiku kesempatan melihatmu untuk yang terakhir kalinya? Mengapa, Nding?

Kau sudah diselimuti tanah ketika aku sampai di kota kelahiran kita. Rumah barumu, yang masih basah dan merah. Tangis ibumu tak terelakkan ketika melihatku. Dengan kencang aku dipeluknya, berbisik terbata memintakan maaf untukmu.

Hari ini, setahun yang lalu, kau memelukku. Dan kini, aku merindukan pelukanmu, sahabat. Tenanglah di sana, tidurlah yang nyenyak. Kau orang baik, banyak doa yang terucap untukmu.

Dariku,
Ndung-mu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s