Fan Fiction

Good Morning, Sunshine ~ Part 6

gudmorningsunshine

Poster by AidenTOP

Title : Good Morning, Sunshine

Genre : Romance

Cast :

– Kim Heechul as Kim Heechul

– Han Yerin as OC

– Lee Donghae as Lee Donghae

– Kim Kibum as Bryan Kim

– Han Hyejin as OC

Pagi yang panas. Tidak bisa dibilang pagi sebenarnya, sudah pukul sebelas siang dan Yerin harus segera berangkat ke kampus nya. Hanya ada satu mata kuliah hari ini, jadi dia bisa sedikit bersantai setelah pulang kuliah nanti. Ketika dia membuka pintu rumahnya, terlihat ada surat yang sedikit menyembul keluar dari kotak surat di sebelah kiri bagian luar pintu nya.

“Oh, ada surat. Dari siapakah?”

Mata Yerin membelalak ketika melihat logo amplop surat tersebut. Sebuah logo dengan background berwarna merah, biru dan coklat dengan gambar seekor singa berkepala dua dan seekor putri duyung yang memegang cermin dan sisir. Logo dari University of Birmingham.

“Dari Birmingham University? Apakah permohonan beasiswa ku dipenuhi? Ya Tuhan.” Dengan hati-hati Yerin membuka amplop tersebut, dan perlahan membaca isinya. Jantungnya berdebar kencang, dan ketika dia membaca satu kata tercetak tebal nafasnya seolah berhenti dan air matanya mengalir tanpa diduga. Dia mendapatkan beasiswa nya, Yerin berhasil meraihnya.

“Ibu… Ibu… kemarilah!” teriak Yerin memanggil ibunya yang sedang berada di dapur. “Aku mendapatkan beasiswa itu Bu, aigoo. Terbukti kan kalau anakmu yang satu ini ternyata begitu pintar? Ahahaha.. aku harus memberitahu Ayah, dan Hyejin eonnie. Dan juga Donghae oppa. Aigoo~”

~o0o~

Tidak biasa. Mahasiswa di Seoul National University mendapatkan pemandangan langka hari ini, Han Yerin tertawa dan menyapa semua orang yang ditemuinya! Entah harus memberikan tatapan aneh atau memberikan senyuman bahagia untuk tingkah tidak biasa yang ditunjukkan gadis itu.

Sunbaenim, aku berhasil. Kau tahu? Aku berhasil.”

“Ya, chingudeul. Aku mendapatkan beasiswa, ke Inggris. Kalian ingin juga? Silahkan mendaftar. Hwaiting!” ujar Yerin menggebu-gebu sambil sesekali mengepalkan tangannya ke udara.

Yerin berjalan ke ruangan kemahasiswaan, mencari dosen pembimbing untuk berkonsultasi mengenai surat yang didapatkannya tadi pagi. Langkahnya ringan, senyum selalu menempel di wajahnya yang imut. Sesekali dia bersenandung dan melupakan tali sepatunya yang terlepas. Tidak sampai….,

Brukkk….

Kakinya menginjak tali sepatunya sendiri. Tubuhnya pun oleng dan sukses mendarat di lantai. Dengan lutut yang sedikit tergores karena celananya yang robek-robek. Bukan robek karena terjatuh, melainkan memang dia menggunakan celana jeans dengan beberapa sobekan di sana-sini. Malangnya, lututnya tidak terbalut sempurna oleh celananya.

“Aishh…” Yerin meringis memegangi lututnya. Dia meniup-niup lututnya, merasakan perih. Kulitnya sedikit tergores, ada sedikit darah yang keluar.

“Dasar bodoh,” ada suara lelaki, Yerin menunduk melihat sepatu kets. Matanya terus menelusuri tubuh di depannya dari bawah ke atas. Dan menemukan sepasang mata tajam yang terus memandanginya. Tajam dan dingin, matanya berwarna coklat, atau hazel? Mata yang indah. “Kurasa ceroboh bisa ditambahkan sebagai nama tengahmu. Han Ceroboh Yerin.”

Yerin mengerjabkan matanya, kemudian menggelengkan kepalanya. Mencari kesadarannya sendiri. Suara itu… Setelah beberapa kali menyipitkan mata, melebarkan kembali, menyipitkan lagi, kemudian melebarkannya lagi, dia baru sadar siapa orang di depannya. Ketika dia akan membuka mulutnya, laki-laki itu sudah mendahuluinya berbicara.

“Tidak usah membentakku, aku tahu kau ingin membentakku. Dan ya, aku memang mengikutimu kalau itu yang ingin kau tanyakan padaku.” Kata laki-laki yang ternyata Heechul itu sambil berjongkok dan mengikat tali sepatu Yerin. “Kau ini sudah umur berapa? Tidak pernah diajari untuk mengikat tali sepatumu?”

Merasa kecolongan start, Yerin hanya bisa mencibir dan mencebikkan mulutnya. “Ish.. aku baru saja mendapatkan keberuntunganku, kukira hari ini adalah hari baik untukku. Tapi kau mengacaukannya Kim Heechul-ssi. Hari ku menjadi sial tiap berada di dekatmu.”

“Kau tidak tahu pepatah yang mengatakan ‘Jika saat ini kau menangis, suatu saat kebahagian pasti akan mendatangimu’ ?”

“Pepatah macam apa itu? Siapa yang mengatakannya?”

“Aku yang mengatakannya.” Kata Heechul. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Yerin berdiri. “Ku bantu.” Ketika Yerin menyambut tangannya dia melanjutkan kata-katanya. “Anggap saja kesialan – meminjam kata-kata mu – ketika kau berada di dekatku saat ini merupakan awal dari kebahagiaan yang telah kusiapkan untukmu.” Ujarnya, sambil memberikan seringaian separuh kepada Yerin.

“Apa maksudmu? Dan ada apa antara kau dengan senyuman itu? Kenapa bulu kudukku selalu meremang tiap melihatmu tersenyum seperti itu?”

“Tidak penting dengan senyuman ku, sayang. Oke, aku harus pergi sekarang. Berhati-hatilah dan perhatikan jalanmu.” Heechul menyempatkan untuk mencium buku-buku jari Yerin yang ada di genggamannya.

“Yaakkk……” dan mengunci bibir Yerin dalam kecupan singkatnya. Dia sedang tidak ingin mendengar teriakan gadis itu.

“Aku pergi. Annyeong~”

Yerin masih terkejut atas kecupan kecil di bibirnya. Ketika dia sadar, sang pelaku sudah jauh meninggalkan dirinya. “Kim Heechul, nappeun neom!!!! Awas kau kalau bertemu denganku lagi!!”

“Han Yerin, tenang..” katanya pada dirinya sendiri. “Tarik nafas, buang nafas, tarik nafas, buang nafas. Jangan kacaukan hari mu sendiri Han Yerin. Ada banyak hal yang harus kau selesaikan hari ini. Satu gangguan tidak akan mengganggumu kan? Bukan begitu Han Yerin? Hwaiting.”

Setelah puas menggumam pada dirinya sendiri, dia melanjutkan perjalanannya ke ruang kemahasiswaan setelah sebelumnya membersihkan lukanya dengan tissue dan menempelkan plester luka di lututnya.

Hari ini harus berjalan dengan baik, begitu pikir Yerin. Dan dia harus segera menelepon Donghae setelah bertemu dengan dosennya hari ini. Memikirkan Donghae membuat mood nya membaik kembali. “Ah, Donghae oppa. Kau selalu bisa membuatku tenang.” Kata Yerin sambil tertawa konyol.

~~~

“… Jadi begitu Han Yerin-ssi. Kau hanya akan mendapatkan beasiswa nya saja, tanpa fasilitas seperti asrama dan yang lain. Bagaimana? Sejujurnya kau sudah agak terlambat ketika menyampaikan surat permohonan beasiswa itu. Tapi berhubung nilaimu memenuhi persyaratan, akhirnya pihak Birmingham University bersedia memberi beasiswa itu untukmu. Semua asrama di Universitas itu sudah penuh, dan belum ada mahasiswa tingkat atas yang berencana untuk pindah dalam waktu dekat.”

“Mmm, sepertinya tidak masalah. Saya bisa mencari pekerjaan sambilan untuk membayar biaya sewa kamar di sana. Saya rasa dengan sedikit tambahan uang dan kiriman dari orang tua saya setiap bulannya bisa mencukupi biaya sewa kamar dan biaya makan saya di sana. Bukan begitu Mr. Kwon?” kata Yerin mantap, tak lupa memberikan senyuman pada orang di depannya ini.

“Kau sangat bersemangat dan optimis, Han Yerin-ssi.” Puji Mr. Kwon. “Aku akan mencoba membantu mu untuk mendapatkan pekerjaan freelance di sana. Kau tahu? Aku punya banyak kenalan di sana.”

“Benarkah? Waahhhh, saya sangat berterimakasih atas bantuan Anda Mr. Kwon. Anda benar-benar penyelamat saya.”

“Ah, kau ini bisa saja. Aku tidak membantu apa-apa. Anggap saja itu kemudahan yang sudah disiapkan untukmu.”

“Ne?”

Mr. Kwon hanya tertawa. “Sudahlah. Sebaiknya kau segera menyiapkan semua perlengkapanmu, kurang dari sebulan kau sudah harus berada di sana untuk memulai perkuliahan. Permasalahan mu di kampus ini, mungkin aku bisa sedikit membantu.”

“Anda baik sekali Mr. Kwon, saya tidak tahu harus membalas dengan apa. Bantuan Anda sudah sangat banyak.”

“Hahaha… tak apa, aku bangga padamu Han Yerin-ssi. Kau salah satu mahasiswa ku yang berotak encer, dan tidak banyak mahasiswa yang bisa mendapatkan beasiswa sepertimu. Anggap saja ini semua ucapan terimakasih ku karena secara tidak langsung kau telah mengangkat nama Seoul National University ini. Buktikan bahwa kau mahasiswa yang cerdas Yerin-ssi. Kau bisa berjanji padaku?”

“Saya berjanji Mr. Kwon, saya akan berusaha untuk mendapatkan nilai yang baik di sana. Dan tidak mengecawakan Anda. Baiklah kalau begitu, saya permisi.”

Yerin meninggalkan ruangan Mr. Kwon dengan senyum mengembang, semuanya berjalan lebih mudah dari perkiraannya. Sambil membenahi blazer rajut kebesarannya, Yerin mencari-cari ponsel di tas nya. Dia harus segera menghubungi kekasihnya. Dia sudah berjanji untuk memberitahu semuanya pada Donghae setelah menyelesaikan urusannya di kampus.

Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Donghae, resiko mempunyai kekasih seorang dokter yang jam kerja nya kadang tidak menentu membuat Yerin seringkali menahan rindu. Terkadang ketika dia sudah sangat merindukan kekasihnya itu tetapi tidak memungkinkan keduanya untuk bertemu, Yerin hanya bisa memandangi foto-foto mereka yang memenuhi dinding kamar nya. Atau memeluk boneka Tazmania besar yang dibelikan Donghae untuknya waktu dia berulang tahun tahun lalu.

Yerin tidak seperti gadis lainnya yang akan merengek jika tidak bertemu dengan kekasihnya. Dia hanya akan diam, memandangi foto dan memeluk boneka ketika tidak bisa bertemu dengan Donghae. Dia memang manja, tapi kalau sudah menyangkut kesibukan Donghae, dia tidak akan memaksakan kehendaknya. Dia tahu kewajiban kekasihnya yang harus menolong orang banyak. Jika dia sedang tidak ada kuliah, kadang dia rela menunggu Donghae di rumah sakit hanya untuk makan siang di kafe favorit mereka berdua.

Berbicara tentang Donghae, saat ini Yerin sudah berada di depan ruang praktek Donghae. Menunggu pangerannya membuka pintu ruang praktek nya dan menemaninya makan siang. Dia sudah menyiapkan senyuman terbaik untuk ini. Dan akhirnya, pintu ruangan itu terbuka. Dengan jas dokter berwarna putih dan stetoskop yang menggantung di leher, Donghae keluar dari ruangan tanpa menyadari ada gadis mungil di depannya. Matanya terpejam, dan tangan kirinya sibuk memijit leher belakangnya.

“Donghae oppa…”

Merasa ada yang memanggil, Donghae membuka matanya dan menemukan kekasihnya berdiri dengan senyuman tiga jarinya. “Oh, kau ke sini? Kenapa tidak memberitahu oppa dulu? Oppa kan bisa menjemputmu ke kampus.”

Yerin memperlihatkan deretan giginya yang putih sekali lagi. “Aku ingin memberikan kejutan padamu. Ayo makan, aku sudah sangat lapar, kau tahu oppa aku kelaparan menunggu mu di sini.”

“Kau ini, kenapa tidak ke kantin saja? Kau kan bisa makan dulu di sana.” Donghae mengacak-acak rambut Yerin dan kemudian menggandengnya untuk berjalan ke tempat parkir. “Ke kafe biasa?”

Mata Yerin langsung bersinar ketika mendengar ajakan itu. “Aigoo oppa, kau tahu saja apa yang kuinginkan dari tadi. Kau memang kekasih yang paling baik.”

“Aku sudah menjadi kekasihmu selama dua tahun kalau kau lupa nona.”

~o0o~

Mereka berdua sudah berada di kafe favorit mereka. Dan juga memesan makanan yang biasa mereka pesan juga. Dua orang itu duduk berhadapan dengan tangan Donghae yang menggenggam tangan Yerin di atas meja.

“Jadi apa yang akan kau bicarakan pada oppa?”

“Eung… itu, aku..aku diterima di Birmingham. Permohonan beasiswa ku dipenuhi.”

Donghae tersenyum mendengarnya, kekasihnya itu memang cerdas. Tak heran dia bisa mendapatkan beasiswa itu. “Kau senang?”

“Aku senang tentu saja. Keinginanku tercapai, oppa tahu kan kalau aku sudah memimpikan ini sejak lama?” Yerin menggantung kalimatnya. Donghae yang melihat itu mengernyitkan dahinya.

“Iya, kau senang, tapi….”

“Tapi aku juga sedih karena harus jauh darimu. Bagaimana nanti kalau aku tiba-tiba rindu padamu oppa?”

Donghae menghela nafas sejenak. Gadisnya yang manja. “Kita masih bisa berkirim pesan, atau saling menelepon. Atau kita masih bisa chatting lewat Skype jika kau sangat ingin melihat wajah tampan oppa.” Laki-laki itu berusaha mencairkan suasana dengan candaannya. Dan terbukti berhasil karena Yerin ikut tertawa bersamanya.

“Kau ini makhluk paling percaya diri yang pernah kutemui oppa.”

“Benarkah?”

Yerin berpikir sejenak. “Mmm, sepertinya bukan. Ada satu orang lagi yang hidup di dunia ini dengan tingkat kepercayaan diri melebihi batas rata-rata. Tapi hanya oppa yang ada di hatiku.” Kata Yerin sambil membayangkan wajah Heechul yang membuatnya sebal setengah mati.

“Arraso. Makan lah dulu, bukankah kau sudah lapar?”

Mereka makan sambil sesekali berbincang, saling menceritakan kegiatan mereka hari ini. Atau mendengarkan cerita Yerin tentang peralatan-peralatan elektronik yang ingin dia beli atau Donghae yang bercerita tentang tingkah lucu pasien-pasiennya di rumah sakit.

“Oppa, ada satu hal lagi yang harus kuceritakan.”

Go on.”

“Beasiswa itu, aku tidak mendapatkannya secara penuh. Aku harus mencari tempat untuk tinggal sendiri, karena asrama sudah penuh dan sepertinya tidak ada rencana bagi mahasiswa tingkat atas untuk pindah dari asrama dalam waktu dekat. Tapi Mr. Kwon sudah berjanji untuk membantu ku mendapatkan pekerjaan freelance jika uang saku yang diberikan Ayah ternyata tidak bisa memenuhi biaya hidupku di sana.”

“Oppa bisa mengirimkan uang untukmu Yerin-a. Kau tidak usah mengambil pekerjaan apapun. Dan tidak usah mengatakan hal ini pada Ayah dan Ibu, jika kau tidak ingin membebani pikiran mereka.

“Tapi oppa…”

“Oppa tahu kau tidak ingin mereka mengetahui hal ini, makanya kau ingin mendapatkan pekerjaan freelance di sana. Tapi tidak, oppa tidak mengijinkanmu mendapatkan pekerjaan itu. Apapun pekerjaannya. Oppa bisa mengirimkan uang untuk menutupi semua kekurangan biaya hidupmu di sana.”

“Oppa, oppa tahu aku tidak pernah bisa menerima uang dari siapapun kecuali dari orang tuaku. Meskipun itu darimu oppa.”

“Tapi aku ini kekasihmu Yerin-a.”

“Aku tahu. Tapi ini prinsipku oppa, aku ingin oppa menghargai prinsipku ini.”

“Kau keras kepala sayang. Aku akan tetap mengirimkan uang untukmu. Tidak ada bantahan. Sekali ini saja kau dengarkan kata-kataku.”

“Aish, lama-lama kau menjadi seperti Ayah dan Ibu oppa. Suka sekali mengatur. Sudah, aku sudah kenyang, rasa laparku hilang entah kemana.” Yerin sedikit membanting sendoknya ke meja. Donghae hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Yerin. Gadis itu memang tidak pernah mau menerima pemberian uang darinya, untuk alasan apapun itu. Dia bilang tidak ingin berhutang budi pada orang lain, tapi dia selalu meminta dibelikan gadget-gadget pada Donghae. Gadis itu memang benar-benar aneh, mungkin ada masalah antara dirinya dengan uang.

~o0o~

Malam hari ketika Yerin sedang duduk santai di teras belakang rumahnya. Kata-kata Mr. Kwon kembali terngiang di telinganya.

“Anggap saja itu kemudahan yang sudah disiapkan untukmu.”

“Sepertinya aku pernah mendengar kata-kata itu, tapi di mana ya? Kata-kata itu tidak asing di telingaku.” Yerin mencoba mengingat siapa yang pernah berkata seperti itu padanya, tapi otaknya buntu seolah sedang tidak ingin berpikir. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan mencari kakaknya.

“Eonnie, aku boleh minta bantuanmu tidak?” kata Yerin ketika sudah menemukan Hyejin di kamarnya.

“Eo, bantuan apa?” tanya Hyejin tanpa menoleh ke arah adiknya dan tetap membereskan lemari pakaiannya.

“Bantu aku memasak, aku ingin membuat macaroon untuk Donghae oppa.”

Seketika Hyejin memutar tubuhnya, terkejut akan ucapan adiknya itu. “Aku tidak salah dengar? Kau ingin belajar memasak?”

Yerin cemberut mendengar perkataan kakaknya. “Ya!! Memangnya salah jika aku ingin belajar memasak?”

“Tidak-tidak, hanya saja…” Hyejin menjentikkan jarinya ke udara. “Sedikit aneh.”

“Aish, jadi mau mengajariku tidak? Kalau tidak aku bisa meminta bantuan orang lain.”

“Jangan suka merajuk. Oke, oke besok kau kuajari membuat macaroon. Senang?” Yerin melonjak senang mendengar hal itu.

Paginya, Yerin dan Hyejin sudah sibuk di dapur, menyiapkan alat dan bahan-bahan untuk membuat macaroon. Gula, telur, tepung, bubuk almond, pasta rasa buah-buahan sudah siap di dapur.

Mereka berdua sudah mulai membuat macaroon, dengan Hyejin yang memberi contoh dan Yerin yang mengikuti dan mencatat apapun yang dikatakan kakaknya itu. Tapi bukan Yerin jika bisa memasak dengan rapi, dapur yang semula bersih menjadi berantakan dengan ceceran tepung dan kulit telur yang bertebaran di sekeliling dapur.

“Jika Ibu mengetahui ini, dia pasti akan marah Yerin-a.” tapi Yerin tidak menggubris perkataan kakaknya, dan sekali lagi dia memecahkan telur untuk yang ke empat kalinya.

~o0o~

Tiga minggu kemudian…

Yerin sudah siap dengan dua koper besarnya. Tiket pesawat dan paspor berada di tangannya. Saat ini dia sudah berada di bandara untuk terbang ke Birmingham, Inggris. Dia diantarkan oleh kedua orang tuanya, Hyejin dan juga Donghae, kekasihnya.

Ibunya terus saja menangis sejak berangkat dari rumah dan tidak melepaskan pelukannya sedetik pun pada Yerin. “Aigoo, uri ttal. Bagaimana kau nanti di sana sayang? Tidak akan ada yang mengurusmu lagi.”

“Sudahlah, kau harus mempercayai anakmu sendiri.” Kata Tuan Han meyakinkan istrinya. “Dia akan baik-baik saja di sana.”

Akhirnya, panggilan untuk flight ke Birmingham sudah terdengar, Yerin harus segera berangkat. Satu-persatu dipeluknya, sesekali dia mengusap air mata yang juga turun dari matanya. Ketika sudah sampai di hadapan Donghae, Yerin tidak bisa membendung tangisannya. Dia menangis keras di pelukan laki-laki itu. Donghae hanya bisa mengelus pelan rambut dan punggung kekasihnya.

“Hush, jangan menangis nanti kau tidak cantik lagi. Kita kan masih bisa berhubungan sayang. Jika kau mau dan oppa sedang tidak sibuk, nanti oppa akan mengunjungimu di sana.”

Yerin mengangkat wajahnya dan mengelap ingus yang keluar dari hidungnya dengan asal. “Yaksok?”

“Iya, oppa janji. Sudah sana, nanti kau ketinggalan pesawat.” Donghae menarik tubuh Yerin mendekat sekali lagi dan mencium puncak kepalanya. Kemudian menangkup wajah Yerin dengan kedua tangannya. “Aku mencintaimu Han Yerin. Jaga dirimu di sana.” Donghae mendekatkan wajahnya dan ketika Yerin menutup matanya, dia menempelkan bibirnya ke bibir Yerin.

“Aku juga mencintaimu oppa.”

Yerin menarik kopernya dan berjalan menjauh dari keluarga dan kekasihnya. Sesekali dia menoleh ke belakang dan menemukan kedua orang tuanya yang melambaikan tangan dan anggukan mantap dari kekasihnya. Ya, dia tidak boleh cengeng, kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai. Dia tidak boleh menyerah, begitu pikir Yerin.

~o0o~

Penerbangan dari Incheon ke Birmingham yang memakan waktu 20 jam lebih membuat badan Yerin terasa kaku. Bagaimana tidak? Dia hanya duduk dan sesekali berdiri dari tempat duduknya hanya untuk pergi ke kamar mandi. Pemberhentian di Dubai pun juga sama seperti ketika berada di pesawat, dia tidak ingin berjalan-jalan terlalu jauh, takut ketinggalan penerbangan lanjutannya.

Dan sekarang, sampailah dirinya di Birmingham International Airport. Menurut Mr. Kwon, akan ada seseorang yang menjemputnya di bandara. Kenalan dari Mr. Kwon katanya. Sebelumnya Mr. Kwon juga sudah menyiapkan sebuah flat untuk ditinggali Yerin sementara waktu.

Yerin sedang melihat ke sekeliling mencari orang yang membawa papan atau kertas yang bertuliskan namanya. Sampai ketika… Bruukkk… Dirinya terjatuh lagi, karena tali sepatunya yang tidak terikat dengan sempurna.

“Aish, baru saja sampai sudah mendapatkan kesialan seperti ini.” Kata Yerin sambil mengusap lutut dan kakinya.

“Miss Han Yerin?” ada suara yang memanggil namanya, sepertinya orang itu berada di depannya. “Am i right?” Yerin mendongak, dan menemukan sepasang mata. Mata itu, di mana dia pernah melihat warna mata itu? Coklat?

.

.

.

.

.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s