Flash Fiction

Pukul Dua Dini Hari

Genre : Romance

Length : 513 w

Kedua

Aku sedang dalam perjalanan menuju kantor kekasihku, aku sudah berjanji untuk makan siang bersama nya hari ini. Kesibukan membuat kami jarang bisa makan siang bersama. Aku bekerja sebagai desainer, dan kekasihku sebagai sekretaris direksi. Dari segi finansial kami sudah cukup kuat untuk menuju pernikahan, tapi masih ada beberapa hal di antara kami yang harus diubah, terutama tentang kebiasaannya yang sedikit agak boros.

Sekaya apapun dirimu, pasti tidak ingin uang kalian dihamburkan untuk hal-hal yang tidak begitu penting. Beberapa teman kantor ku sering mengejekku sebenarnya, mereka mengira aku penakut sehingga tidak bisa menolak semua keinginan kekasihku. Kesal? Pasti, tapi aku tidak bisa marah pada mereka. Mereka hanya tidak tahu kalau aku sedang berpikir keras untuk menghentikan tingkah kekasihku. Biarlah mereka berpendapat semau mereka.

Masih di jalan dan ponsel ku terus berdering. Demi keselamatan, tidak kuhiraukan suara itu. Pasti dia yang sudah tak sabar menunggu ku menjemputnya.

Oh, Tuhan. Bolehkah aku meminta satu hal lagi? Tolong buat dia menjadi semakin sabar. Cih, kalau dipikir-pikir aku ini seperti manusia tak tahu diri saja. Selalu meminta kepada Tuhan. Tapi aku akan berusaha menjadi manusia yang lebih baik kok, sungguh.

Dia sudah menunggu di depan kantor nya, dan langsung menghampiri mobil ku yang mendekat.

“Kok lama?”

“Sudah lupa kalau kita tinggal di Jakarta?”

Diam, tak membantah perkataanku. Aku malah jadi mengkhawatirkannya. Dia biasa membantah dan berteriak jika sedang marah, dan jika dia diam seperti ini aku jadi takut telah terjadi sesuatu.

“Kenapa tidak marah? Biasanya kamu selalu marah-marah kalau aku terlambat.”

“Lagi ga mood marah.”

“Terus mood nya ngapain?”

“Makan. Makan kamu.”

Wow. Ini masih siang sayang, batinku. Dia melirikku yang tengah tersenyum mesum.

“Jangan mikir yang aneh-aneh deh.” Katanya sambil memukul lenganku. Lalu aku tidak tersenyum mesum lagi selama di perjalanan.

Suasana ketika kami lunch sepertinya sudah membaik. Dia sudah banyak bicara, dia memang banyak bicara dan seharusnya seperti ini. Jika dia tidak banyak bicara, seperti bukan dia rasanya. Dia bercerita kalau habis bertengkar dengan rekan kerjanya. Hanya karena mereka saling pamer tas dan berarguman kalau tas mereka yang paling bagus. Oh Zeus, perempuan-perempuan ini sangat menyusahkan.

Akhirnya aku bisa meredakan kemarahannya dengan sedikit membujuknya, mengatakan kalau temannya itu hanya iri padanya. Dan dia percaya, syukurlah.

 

~o0o~

 

Malamnya, tak tahu kenapa aku jadi teringat gadis penjual bunga ku. Ku ambil kamera ku dan membuka-buka foto di sana. Ku pandangi sosok cantiknya, ada sesuatu yang membuat gadis itu tampak cantik. Bukan berarti kekasih ku tidak cantik, hanya saja dia…berbeda.

Rupanya aku tertidur ketika memandangi foto gadis itu. Dan sekarang aku terbangun gara-gara suara ponsel ku yang tak berhenti berdering. Demi Tuhan, ini pukul dua dini hari. Siapa yang menelepon jam segini??

My Love

Kekasihku. Ku angkat teleponnya dan dia langsung saja nyerocos tanpa mengucapkan kata ‘halo’ terlebih dahulu.

“Sayang, aku udah mutusin mau bikin si Mira itu iri sama aku. Besok kamu libur kan? Temenin aku belanja yaa. Pokoknya besok seharian kamu harus sama aku.”

Aku melongo, seperti orang bodoh.

“Ya sudah, kamu bobo lagi aja. Jangan lupa besok jemput aku di rumah ya. Bye sayang, I love you.”

Dan panggilan pun berakhir. Hanya seperti itu.

Apa-apaan ini????

 

 

THE END

Advertisements

2 thoughts on “Pukul Dua Dini Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s