Flash Fiction

Pagi Kuning Keemasan

Samar ku lihat kerlip lampu berwarna merah tinggi menjulang. “Tempat apa ini?”

Aku tidak pernah ingat datang ke tempat ini. Ini terlalu gelap.

Tubuh ku terasa berat, tak mampu menghadapi terpaan angin yang terus bertiup kencang menghempas. Kepalaku terasa berputar, mataku sayu tak mampu menangkap dengan jelas apa gerangan yang ada di hadapan ku.

“Apa yang terjadi? Dimana aku?”

Kau di Pulau Lengkuas sayang” kudengar bisikan seseorang.

Tapi siapa?? Ku coba berteriak, tapi sesuatu seolah mencekik leher ku. Tak sepatah katapun keluar dari mulutku.

Dadaku sesak, air mata ku terus meleleh panas di pipi. Ku lihat sekeliling, tak ada seorang pun di sampingku.

Tenanglah sayang, aku di sini menemani mu”. Lagi, ku dengar suara itu lagi.

Ku pukul keras kepalaku, mencoba menghilangkan halusinasi yang memenuhi otakku. Aku ingin pergi dari sini, tempat ini menyeramkan. Aku harus pergi, tapi aku tak sanggup berdiri. Aku tak sanggup menopang tubuhku sendiri.

Ku pejamkan mata, mencoba mengikis rasa sakit di pelipisku. Ingatan itu kembali berputar.

Tanjung Kelayang. Ya, bukankah aku dan Aldi akan pergi ke Tanjung Kelayang?

Bagaimana bisa aku berada disini. Dimana Aldi?

Aldi, tolong aku. Aku takut

Ssstttt….. tenang lah sayang, ini tidak akan sakit

Setitik kenyataan menampar ku keras.  “Tidak, jangan!! Apakah itu kau? Jangan sekarang.”

Air mata ku terus mengalir, menahan sesak di dada dan sakit di sekujur tubuhku. Lebih dari itu, hati ku terkoyak. Aku tak pernah membayangkan akan terjadi seperti ini.

Kenangan itu semakin memenuhi pikiran ku.

Apakah ini saatnya?”

Ku kerjapkan mataku berulang kali, kini sosoknya mulai terlihat semakin jelas. Mengganggu pandangan ku. Tampan, dia tampan. Dia mengulurkan tangannya ke arah ku. Ku tatap wajah tampannya ragu. Haruskah ku terima uluran tangannya?

Ku hembuskan nafas ku sejenak, bergetar kurasakan ketika tangan ku perlahan menyambut tangan halus nya. Tiba-tiba kilatan putih memenuhi penglihatan ku.

Semua memori kehidupanku terus berulang. Masa-masa indah ku di waktu kecil, bayangan kenakalan ku waktu remaja. Sampai kebahagiaan ku bersama Aldi, calon suami ku.

Tubuhku menghangat, tak sedingin tadi. Tubuhku meringan, seolah aku bisa terbang melintasi awan.

Kubuka mataku. Aku benar-benar terbang. Ku lihat sosok disamping ku. Dia tersenyum sambil berbisik.

“Bukankah melihat pagi kuning keemasan dari atas sini lebih indah sayang?”

Pulau lengkuas

 

THE END

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s