Flash Fiction

Menunggu Lampu Hijau

4-menunggu-lampu-hijau-jam-gadang-bukittinggi-sumatera-barat

Sialan.

Saat – saat seperti ini aku harus mengutuk diri ku sendiri yang entah mengapa harus mengidap Coulrophobia1. Aneh, kenapa banyak orang yang suka dengan makhluk –jadi-jadian- itu. Atau aku yang berlebihan bereaksi, jika makhluk itu mendekat?

Baiklah, terpaksa aku harus bersembunyi di balik pohon. Ingat, hanya untuk sementara. Aku hanya tidak ingin orang-orang menganggap ku aneh jika tiba-tiba aku berteriak – dan kemudian pingsan – jika makhluk itu berjalan ke arah ku.

Oh, come on. Kapan kamu akan kemari Bagas? Aku sudah ber jam-jam menunggumu di depan Jam Gadang ini. Atau kamu memang sengaja, membiarkan ku menunggu lama dan ditemani badut-badut tidak berperikemanusiaan itu?

Ah, aku terus saja mengoceh dari tadi. Sepertinya mendengarkan musik bisa sedikit menghilangkan rasa takut ku. Ku pasang earphone, mendengarkan alunan musik sambil memejamkan mata.

**

“Putri, janji ya sampai kita besar nanti kita akan terus bersama. Nanti, kalau sudah besar, aku akan bekerja seperti ayah. Dan kamu di rumah, masak makanan yang enak untuk ku setiap hari. Oke.” Bagas terus saja mengatakan hal yang sama sepanjang perjalanan kami mengitari taman.

“Aku janji, aku akan belajar memasak dengan ibu. Ibu pasti senang mengajari ku memasak.” Kata ku dengan mata berbinar.

**

Ku kerjapkan mataku beberapa kali, ternyata aku ketiduran. Aku menengok ke arah jam Gadang. Jarum jam menunjukkan pukul 16.30.

Masih 30 menit lagi. Pikir ku.

Ku lihat badut – badut itu masih saja asyik menghibur wisatawan yang datang. Aku berdiri, memutuskan untuk menghampiri sebuah warung di pinggiran taman. Menunggu sekitar 2 jam ternyata membuat tenggorokan ku kering.

20 menit…

Ku buka handphone ku. Mengamati wajah-wajah lucu disana. Malaikat ku. Sesekali aku tersenyum. Tidak kusangka ternyata dulu dia bergitu culunnya.

“Horeeee”

Ku julurkan kepalaku, melihat ke arah keramaian yang diperbuat anak-anak itu. Rupanya pertunjukan badut sudah hampir selesai. Aku bisa sedikit bernapas lega. Melihat lampu -lightstick- berwarna hijau yang dipegang oleh badut-badut itu.

Teng..teng..teng

Jam menunjukkan pukul 17.00

Aku benar-benar sudah bisa bernapas lega. Oh tidak, sepertinya belum. Salah satu badut itu berjalan ke arah ku.

“Jangan seperti itu, aku tidak siap. Menjauh dari ku.” Racau ku dalam hati sambil terus memelintir ujung rok ku. Keringat mengalir deras dari dahiku.

Perlahan, sosok badut itu melepas topeng nya. Dengan wajah yang sedikit ditekuk dia berteriak kepadaku.

“Ya, Putri. Kenapa kamu malah ngumpet?” teriak nya sambil menyeka keringat.

Aku diam, manyun. Sambil menyeruput minuman yang ku beli. Aku hanya mendelik, tidak menjawab pertanyaannya.

“Sepertinya terapi nya belum berhasil untuk hari ini.” Ujarnya sambil merangkul pundakku.

“Terapi konyol macam apa ini. Bodohnya aku, mau-mau nya mengikuti terapi aneh yang kau ciptakan ini” balasku bersungut-sungut.

Cih, dia hanya tertawa menanggapi omelan ku. Baiklah Bagas, tunggu pembalasan ku nanti di rumah.

//////////////

Coulrophobia : ketakutan berlebih terhadap badut. Bisa terjadi karena trauma masa kecil.

Author’s note:

Cerita ini dibuat beberapa bulan yang lalu (mungkin hampir satu tahun yang lalu) untuk mengikuti acara pembuatan flash fiction untuk mengatasi writer’s block.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s