Fan Fiction

Good Morning, Sunshine – Part 5

gudmorningsunshine

Poster by AidenTOP

Title : Good Morning, Sunshine

Genre : Romance

Cast :

– Kim Heechul as Kim Heechul

– Han Yerin as OC

– Lee Donghae as Lee Donghae

– Kim Kibum as Bryan Kim

– Han Hyejin as OC

Donghae mengantarkan Hyejin pulang ke rumah sebelum kembali ke rumah sakit. Jujur saja selama ini dia tidak pernah berada sedekat ini dengan Hyejin. Biasanya mereka hanya bertemu sebentar ketika Donghae menjemput atau mengantar Yerin, dan hanya beberapa kali berbincang ketika Donghae bertamu ke rumah keluarga Han. Saat ini, Donghae melihat Hyejin yang lain, yang sebelumnya belum pernah dilihatnya. Dia yang tidak tahu atau gadis itu yang pandai menyembunyikan kecantikannya? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Donghae selama dalam perjalanan ke rumah Hyejin.

Sesekali Hyejin melirik ke arah kursi pengemudi di samping kiri nya. Mengamati setiap detil wajah Donghae, laki-laki yang selama ini dicintainya. Hyejin mencintai kekasih adiknya sendiri. Kakak macam apa yang berani-beraninya menyimpan rasa pada orang yang tidak seharusnya dia cintai. Tapi apa daya, perasaan itu muncul begitu saja di hati Hyejin. Sekalipun rasa bersalah terus memenuhi hatinya, hal itu tak mampu untuk mengikis rasa cintanya pada Donghae. Hyejin hanya diam, memendam perasaannya sendiri, melihat Donghae dari kejauhan, menangis ketika menyadari kemesraan Donghae dengan adiknya. Hyejin memang feminim sejak dulu, tapi meskipun begitu dia bukan tipe wanita yang senang berdandan, dan semenjak Donghae dengan kurang ajarnya mengambil hati Hyejin, dia menjadi wanita yang semakin memperhatikan penampilan. Bahkan dia tak ragu untuk belajar berdandan pada teman dekatnya. Hal itu dilakukannya agar Donghae mau melihatnya, ah bahkan melirik saja sudah cukup untuknya. Malang baginya, seolah di mata Donghae hanya Yerin yang paling bersinar. Memikirkan itu membuat Hyejin menghela nafas.

“Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya Donghae tiba-tiba.

Seakan tersadar dari lamunannya, Hyejin seketika langsung menoleh ke arah Donghae. “Ah, tidak oppa. Hanya sedikit permasalahan di kampus. Bukan hal yang penting.”

“Kau bisa menceritakannya padaku jika kau ingin, siapa tahu aku bisa sedikit membantumu.” Laki-laki itu hanya sekilas melirik Hyejin, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke jalan raya.

“Bukan hal yang penting oppa, sungguh. Tak perlu mengkhawatirkanku.” Ucap Hyejin sambil tersenyum pada Donghae.

Tanpa disadarinya, ternyata dada Donghae berdebar sangat kencang setelah melihat senyuman Hyejin. Sama manisnya dengan senyuman Yerin, tapi ada sesuatu yang membuatnya berbeda.

Akhirnya sampai juga mereka di rumah Hyejin. Bagi Donghae, ini merupakan perjalanan paling menegangkan sepanjang hidupnya.

“Sudah sampai, oppa mau mampir?”

“Ah, tidak usah. Aku harus segera kembali ke rumah sakit. Sampaikan saja salamku untuk Ayah dan Ibu.”

“Baiklah. Terimakasih atas tumpangannya oppa.”

“Tunggu,” Donghae memegang pergelangan tangan Hyejin ketika dia akan membuka pintu mobilnya, menariknya agar duduk kembali ke kursi nya. Donghae mencondongkan tubuhnya ke arah Hyejin. Satu tangannya terulur meraih wajah gadis itu. Perlahan tubuh wajah keduanya semakin dekat, dilihatnya sekilas Hyejin menutup matanya entah gugup atau menikmati. Sampai ketika bibir Donghae menyentuh kening Hyejin, dirasakannya tubuh Hyejin menegang di bawahnya. Donghae mengusap pipi Hyejin ketika dia melepas ciumannya. “kau cantik sekali hari ini.”

“Te-terimakasih oppa. A-aku turun dulu.” Dengan tergesa Hyejin membuka pintu mobil Donghae dan segera berlari masuk ke rumahnya tanpa menoleh ke belakang lagi. Dia terlalu malu dan juga gugup setelah apa yang diperbuat Donghae padanya. Dia tidak menyangka jika akan mendapatkan ciuman dari laki-laki yang paling dicintainya.

Ketika Hyejin menutup pintu mobil, Donghae baru menyadari perbuatannya tadi. “Aish, apa yang kau lakukan Donghae-ssi?” katanya sambil mengacak-acak rambutnya gusar. “Kau gila. Benar-benar gila. Demi Tuhan, dia Hyejin, kakak dari kekasihmu sendiri. Ya Tuhan, maafkan aku.” Donghae terus menggerutu dan mengomel tidak jelas selama perjalanannya kembali ke rumah sakit, merutuki kebodohannya.

Ponselnya tiba-tiba berkedip menunjukkan ada pesan yang masuk.

From: My Princess^^

Oppa, kau baik-baik saja?? Kenapa aku tiba-tiba ingin menghubungimu ya? Telepon aku jika kau tidak sibuk ya oppa. Saranghae :*

“Ya Tuhan, aku mengacaukan semuanya. Maafkan aku Yerin-a.” kata Donghae setelah membaca pesan dari gadis mungilnya. Segera dia membalas pesan dari Yerin.

To : My Princess^^

Hei, kau kenapa? Oppa baik-baik saja, baru selesai makan siang. Arasso, nanti oppa telepon sesampai di rumah sakit. Na do saranghae, cantik :*

~~00~~

Sudah dua bulan sejak pertemuannya dengan laki-laki aneh itu di kampus. Dan selama dua bulan itu Yerin selalu saja bertemu dengannya, Kim Heechul. Yerin berpikir seolah memang pertemuan mereka itu direncanakan. Di café, di perpustakaan kota, di toko buku, tanpa diduga selalu saja bertemu dengan orang menyebalkan itu. Dan sekarang, Yerin sedang berada di supermarket hendak membeli kebutuhan hariannya.

“Kita bertemu lagi, Angel.” Bisik seseorang dari belakang tubuh Yerin.

Sontak Yerin membalikkan tubuhnya, bersiap memukulkan keranjang belanjanya ke tubuh orang asing itu. Tapi sebelum dia bisa melakukannya, tangannya sudah digenggam oleh orang itu. Yang memberikan cengiran menyebalkan, Kim Heechul lagi.

“Kau lagi!! Apa sih maumu sebenarnya? Pekerjaanmu adalah penguntit ya?” Yerin membalikkan tubuhnya kesal setelah mengetahui siapa pelaku yang membuatnya terkejut setengah mati.

“Yah, anggap saja itu pekerjaan sampinganku. Menguntitmu.” Jawab Heechul sambil mengambil keranjang belanjaan Yerin. “Sini aku bawakan, kau belanja apa?”

“Kaauuuuu….” Yerin mengepalkan tangannya kesal, dia harus ekstra sabar kalau menghadapi manusia di hadapannya ini. “Kali ini apa yang harus kulakukan untuk membayar hutangku?”

“Belum kupikirkan. Kajja~ kita penuhi keranjang belanjaanmu.” Setengah menyeret tubuh Yerin, Heechul memutari hampir seluruh sudut supermarket itu. Sabun mandi, pasta gigi, parfum sampai pembalut wanita tidak luput dari tangannya yang cekatan. Bukan hanya satu yang diambil tiap jenisnya, tapi banyak.

“Cukup, Heechul-ssi. Kau berlebihan. Aku tidak membutuhkan barang sebanyak ini!” jerit Yerin frustasi.

Heechul melihat Yerin dengan tatapan aneh. “Aku tak tahu merk apa yang biasa kau gunakan, ya sudah aku ambil saja semuanya.” Jawab Heechul acuh.

“Kau kan bisa menanyakan padaku, bukan seenaknya sendiri seperti ini.”

“Apa itu perlu? Toh aku bisa membeli supermarket ini untukmu jika kau menginginkannya.”

“Dengar, aku tidak peduli siapa dirimu atau seberapa kaya dirimu, tapi aku tidak ingin dan tidak suka diperlakukan seperti ini.”

“Terserah kau saja lah,” kata Heechul sambil melambaikan tangannya. “Masih ada yang kau perlukan lagi? Kalau tidak ayo kita bayar.” Heechul kembali menyeret tubuh mungil Yerin ke kasir tanpa perlu mendengarkan jawabannya.

Setelah membayar dengan kartu kreditnya, Heechul mengajak – lebih tepatnya memaksa – Yerin untuk mengikutinya. Dan Yerin hanya bisa pasrah mengikuti laki-laki aneh itu, semua penolakannya tidak akan pernah berhasil.

Mereka pergi ke sebuah butik terkenal di kawasan Apgujong. Banyak gaun cantik yang berjajar rapi dan beberapa tertempel indah di badan mannequin. Tapi tidak ada satupun yang menarik perhatian Yerin.

“Untuk apa kau membawaku kemari?”

Heechul tidak menjawab, dia sibuk melihat-lihat gaun yang dipajang. Satu tangannya ditumpukan di atas tangan yang lain, dan jarinya diletakkan di atas bibir. Dia sedang berpikir. Dan Yerin sudah mati kebosanan menunggu laki-laki itu menjawab pertanyaannya.

“Ini, coba ini.” Heechul menyerahkan tiga potong gaun mewah pada Yerin.

“Untuk apa?”

“Sudah coba saja.” Kata Heechul sambil mendorong Yerin ke kamar ganti.

Yerin tidak nyaman tentu saja. Tanpa tahu tujuannya, dia menuruti semua perkataan Heechul seperti orang bodoh. Yerin keluar setelah mengganti bajunya dengan salah satu gaun yang diberikan Heechul tadi. Heechul memutar jarinya, mengisyaratkan Yerin untuk berputar, dan Yerin mengikutinya dengan malas. Dia melakukan itu sampai tiga gaun tadi dia coba semua.

Ketiga gaun tadi diserahkan pada penjaga yang berada di dekatnya. Dia lalu menjatuhkan dirinya di sofa di samping Heechul.

“Aku lelah.”

“Kau lelah? Ingin makan?”

“Nanti, aku hanya ingin beristirahat sebentar. Menuruti keinginanmu benar-benar menguras tenagaku.”

Heechul hanya menyeringai mendengar perkataan Yerin. “Bungkus ketiga gaun tadi, dan ini kartu kreditnya.” Perintah Heechul pada penjaga butik tadi.

Yerin yang mendengarnya langsung menegakkan badan dan membelalakkan matanya. “Kali ini apa lagi Kim Heechul-ssi?”

“Aku hanya ingin membelikanmu gaun tadi. Tidak ada salahnya kan?”

“Aku sudah mengatakan padamu kalau aku tidak suka diperlakukan seperti ini. Dan aku tidak suka memakai gaun!”

“Aku juga sudah mengatakan padamu terserah apa katamu. Kau tidak harus memakainya, aku hanya ingin membelikannya untukmu. Tanpa gaun itupun, kau tetap terlihat cantik di mataku. Anggap saja itu salah satu caramu melunasi hutang padaku.”

“Aish. Kau benar-benar membuatku pusing, dan muak. Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?”

“Kau akan mengabulkan keinginanku?” tanya Heechul tertarik. “Bagaimana jika kukatakan aku menginginkanmu menjadi kekasihku?”

Yerin hanya bisa menganga, terkejut dengan perkataan Heechul. Laki-laki ini sangat berbeda dengan kekasihnya. Laki-laki ini begitu spontan dan terlalu blak-blakan.

“Kau gila. Aku sudah punya kekasih.”

“Aku tahu.” Heecul menggedikkan bahunya.

~~00~~

“Ku antarkan ke dalam.” Tawar Heechul ketika mereka sudah berada di depan rumah Yerin.

“Tidak perlu.” Jawab Yerin seketika, keluar dari dalam mobil dan membuka pintu belakang lalu mengambil semua barang yang dibelikan Heechul untuknya.

Heechul menurunkan kaca mobilnya dan berkata pada Yerin. “Tidak ada ciuman ucapan terimakasih untukku?” tanyanya sambil memamerkan deretan giginya yang rapi.

“Dalam mimpimu Tuan Kim.” Jawab Yerin sambil berlalu dari hadapan Heechul yang tertawa terbahak-bahak karena jawabannya.

Tak lama mobil Heechul pergi meninggalkan pelataran rumah Yerin, terlihat dia semakin senang mengganggu gadis kecilnya itu. Senyum tak pernah lepas dari wajah tampannya. Sepanjang perjalanan dipenuhi dengan senyum dan tawa ketika mengingat wajah Yerin.

Sementara itu, di dalam rumahnya Yerin kebingungan ketika mendapatkan pertanyaan dari ibunya.

“Untuk apa belanja sebanyak itu Han Yerin? Kau menghabiskan uang jajanmu lagi?”

“T-tidak Bu… Ini..ini bukan seperti itu. Aku tadi mendapatkan hadiah kupon Bu. Ah iya, menang kupon di supermarket. Aku tidak menghabiskan uang jajanku, sungguh.”

“Kau ini, ya sudahlah. Cepat naik, ganti bajumu lalu makan.”

“Bagaimana uang jajanku akan habis jika semua barang ini dibelikan oleh orang lain?” gerutu Yerin ketika menaiki tangga rumahnya.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s