Fan Fiction

Good Morning, Sunshine – Part 4

gudmorningsunshine

Poster by AidenTOP

Title : Good Morning, Sunshine

Genre : Romance

Cast :

– Kim Heechul as Kim Heechul

– Han Yerin as OC

– Lee Donghae as Lee Donghae

– Kim Kibum as Bryan Kim

– Han Hyejin as OC

“Jadi, bagaimana keputusan Ayah dan Ibu? Apakah aku boleh mendaftarkan beasiswa itu?” Tanya Yerin ketika mereka makan malam bersama tepat satu minggu setelah Yerin mengatakan keinginannya kepada kedua orang tuanya.

“Rencananya kau ingin mendaftar beasiswa di universitas mana Yerin-a?” tanya Tuan Han tegas.

Yerin menjawab dengan gugup, menebak-nebak akankah dia diberikan ijin kali ini. “Aku berencana untuk mendaftar di Cambridge dan Birmingham Ayah, itu atas rekomendasi dosen ku di universitas.”

Sebuah suara menginterupsi Tuan Han ketika akan mengatakan sesuatu. “Annyeong haseyo…” Tampak Donghae masuk ke ruang makan kediaman keluarga Han.

“Oh, Donghae-ya, kau datang.” Ucap Ibu Yerin sambil menarik Donghae untuk duduk di sebelah Yerin. “Ikut makan malam bersama kami ya? Kau belum makan kan?”

“Ah, kebetulan sekali Ayah, Ibu saya memang belum makan. Tapi ngomong-ngomong, dimana Hyejin?” Donghae mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. “Awww…”

“Ya!! Oppa, kenapa kau malah menanyakan Hyejin unnie? Bukannya menanyakan keadaanku yang sedang berada di ujung tanduk ini.” Yerin berbisik sambil terus mencubit lengan Donghae.

“Apanya yang di ujung tanduk?” tanya Donghae ketika melepaskan cubitan tangan Yerin dan menggenggam jarinya.

“Ehmm.. Ayah mendengarnya Yerin-a.” Terdengar suara Tuan Han yang kemudian menggelengkan kepalanya yang pusing memikirkan tingkah anak bungsunya. “Hyejin sedang pergi bersama teman-temannya. Donghae-ya, apakah kau tau Yerin ingin mengajukan beasiswa ke luar negeri? Bagaimana mungkin dia hidup sendiri di luar negeri kalau tingkah nya saja masih seperti anak kecil.”

Donghae hanya mengangguk-angguk mendengarkan perkataan calon ayah mertuanya ini. “Ya, Yerin sudah memberitahu saya Yah.”

“Jadi bagaimana menurutmu Donghae-ya?”

“Oppa, jangan mempersulitku. Katakan kau menyetujuinya,” kata Yerin sambil menyenggol kaki Donghae.

“Hahaha… Kau ini ada-ada saja.” Donghae mengusap-usap kepala Yerin dengan sayang. “Kalau saya sebenarnya terserah pada Ayah dan Ibu saja. Tapi menurut saya, sepertinya tidak apa-apa. Sekalian anak ini agar belajar mandiri. Tapi keputusan tetap ada pada Ayah dan Ibu.” Kata Donghae bijaksana. Yerin yang mendengarnya langsung menoleh menatap Donghae, menunjukkan mukanya yang dibuat seimut mungkin. Tapi Donghae hanya tertawa melihat tingkah kekasihnya, kemudian diusapnya wajah Yerin. “Tidak usah menunjukkan muka seperti itu pada oppa.”

“Huh, kau ini oppa.” Gerutu Yerin yang langsung kembali menyantap makan malamnya. “Jadi, boleh kan Ayah?”

“Ahh, perbincangan ini membuatku pusing.” Ibu Yerin menyela pembicaraan suami dan anaknya ketika kembali ke ruang makan sambil memberikan piring berisi nasi untuk Donghae.

“Hahhhh… ya sudah kalau begitu. Ayah ijinkan kau mendaftarkan beasiswa itu. Tapi…….”

***

Setelah selesai makan malam yang dianggap Yerin sebagai penentu hidup dan matinya itu, dia dan Donghae berjalan ke taman di depan rumahnya. Rasanya sudah lama mereka berdua tidak merasakan pemandangan di taman rumahnya pada malam hari seperti ini.

“Terimakasih oppa.” Kata Yerin, mengambil tangan Donghae dan menautkan jari-jari mereka.

No problem.” Donghae tersenyum dan mencium jemari Yerin yang ada dalam genggamannya. “Oppa akan selalu mendukung apapun yang terbaik untukmu Yerin-a.”

“Kau memang yang terbaik, oppa-ya. Saranghae.” Yerin menyandarkan kepalanya di bahu Donghae yang kemudian mencium ujung kepalanya.

Na do saranghae, Yerin-a.”

Di kejauhan, ada dua pasang mata yang mengamati mereka. Satu pasang mata menatap mereka berdua dengan pandangan sedih, dan yang lainnya menatap mereka dengan pandangan yang sulit untuk dimengerti, sedih, marah bercampur jadi satu.

***

Akhirnya, ijin dari kedua orang tua sudah diperoleh. Dan hari ini, Yerin memasukkan semua persyaratan yang akan digunakan untuk mendaftar di dua universitas pilihannya. Senyum Yerin tidak pernah hilang sejak dia keluar dari rumah hingga sampai di kampusnya. Perasaan nya bahagia, jika melupakan syarat tidak masuk akal yang diberikan oleh Ayah dan Ibunya semalam. Ingatannya kembali ke waktu makan malam bersama orang tuanya dan Donghae.

Ayah ijinkan kau mendaftarkan beasiswa itu. Tapi…” terdengar helaan nafas sejenak dari bibir Ayahnya. “Ayah dan Ibu harus mengetahui dan mengenal semua teman-temanmu di sana. Baik laki-laki ataupun perempuan. Berikan nomor ponsel teman-temanmu di sana. Jadi Ayah dan Ibu bisa rutin mengontrol keadaanmu di sana lewat teman-temanmu.”

Yerin hanya melongo mendengar syarat dari Ayahnya. “Tapi Yah…” belum sampai Yerin menyelesaikan kata-katanya, terdengar Ayahnya menginterupsi.

Ya atau tidak ada ijin.” Kata Tuan Han tegas.

“Baiklah.. baiklah…” Yerin terdengar pasrah mendengar keputusan Ayahnya. Dan Donghae hanya menahan tawanya sambil menepuk-nepuk kepala Yerin.

“Bukan masalah besar kan? Hanya memberikan nomor ponsel semua temanku di sana. Yah, walaupun nanti aku harus mendapatkan ejekan dari teman-teman sebagai anak manja.” Bisik Yerin pada dirinya sendiri ketika melangkah menuju ruang dosen untuk berkonsultasi.

Pukul 2 siang dan Yerin sudah menyelesaikan proses administrasi pendaftaran beasiswanya. Masih ada satu mata kuliah yang harus diikutinya hari ini, tetapi sebelumnya dia harus makan dulu karena sudah lewat jam makan siang seharusnya dan cacing-cacing di perutnya sudah memberontak minta diberi jatah makan.

Yerin sudah sampai di kafetaria kampusnya dan sudah memesan makannya, ketika dia berjalan mencari meja sambil menuliskan pesan kepada Donghae, tidak sengaja dia menabrak seseorang. Atau ditabrak seseorang?

“Ah… Maaf, maaf aku tidak sengaja. Maafkan aku.” Kata Yerin sambil sedikit membungkukkan badannya.

“Kau lagi.” Satu kalimat bernada dingin keluar dari mulut orang yang bertabrakan dengan Yerin. Rasanya Yerin tidak asing dengan suara itu.

Perlahan dia mendongakkan kepalanya dan melihat sepasang mata yang menatapnya tajam dan bibir dengan seringaian menyebalkan ke arahnya. Sejenak Yerin terpesona dengan tatapan mata laki-laki di hadapannya yang tampak tampan mengenakan kemeja hitamnya. “Kau….????? Mau apa kau di sini? Kau mengikutiku? Ingin menagih ganti rugi?” cecar Yerin ketika menyadari siapa orang di hadapannya.

“Wow..wow.. Tunggu nona. Bernafsu sekali pertanyaanmu itu. Apa ada yang salah jika aku berada di tempat publik seperti universitas ini? Bisa saja aku berkuliah di sini.” Kata laki-laki itu dengan santai dan mengangkat bahunya acuh. “Atau jangan-jangan kau memang mengharapkan untuk aku ikuti?”

“Apa?? Kau.. berani-beraninya kau berkata seperti itu.” Tangan Yerin sudah mengepal hendak memukul makhluk di depannya. Tapi diurungkan niatnya, mengingat dirinya masih berada di kampus, dan dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. “Minggir, aku harus pergi.” Yerin mengulurkan tangannya hendak menggeser tubuh laki-laki itu. Tapi sialnya, tubuh laki-laki itu sama sekali tidak bergerak. Merasa putus asa, Yerin bergeser ke kanan dan ketika akan melangkah, laki-laki itu menggeser badannya ke kiri sehingga menghalangi jalan Yerin. Yerin mendecak kesal dan menggeser badannya ke kiri, tapi laki-laki itu ikut menggeser badannya ke kanan. “Apasih maumu??”

“Makan siang bersamamu.” Ucap laki-laki itu santai

“Apa?”

“Ck.. berapa IQ mu sebenarnya? Sampai tidak bisa mencerna ucapan seseorang. Aku..ingin..makan..siang..bersamamu. Jelas? Hitung-hitung ganti rugi kau telah mengotori jas ku dulu.”

“Haish… Kau…. Baiklah.” Akhirnya Yerin menyerah dan mengikuti kemauan laki-laki itu.

“Silahkan tuan putri.” Laki-laki itu membuka jalan untuk Yerin dan mengulurkan tangannya seperti pengawal-pengawal di jaman kerajaan, tak lupa dengan senyum – seringaian – menyebalkannya. Membuat Yerin bergidik ketika melihat senyumannya.

Makanan pesanan Yerin sudah datang, tanpa menghiraukan laki-laki yang duduk di depannya Yerin langsung memakan makanannya. Hingga satu suara mengganggu pendengarannya.

“Kau makan seperti anak kecil.” Sebuah tangan terjulur ke arah Yerin sambil membawa selembar tisu dan mengusapkan di bibir Yerin yang ada sedikit makanan tertinggal.

Yerin mengerjap kaget dan kebingungan. Tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari orang asing. “Apa yang kau lakukan?”

“Hanya membantumu membersihkan sisa makanan di mulutmu. Dan panggil aku Heechul. Kim Heechul.”

“Percaya diri sekali kau ini, siapa juga yang ingin tahu namamu? Tapi, terimakasih.”

Heechul hanya mengibaskan tangannya tidak peduli.

“Kau.. tidak makan?” tanya Yerin hati-hati.

“Melihatmu makan dengan berantakan sudah membuatku kenyang.” Kata-kata Heechul membuat Yerin mengepalkan tangannya menahan amarah. “Kurasa sudah cukup untuk hari ini. Aku harus segera pergi. Tapi hutangmu belum lunas, aku akan menagih hutangmu lagi lain kali.” Heechul mendorong kursinya ke belakang dan berjalan ke samping Yerin. “Sampai jumpa lagi Yerin-a.” bisiknya tepat di telinga Yerin dan tak lupa sebuah kecupan singkat mampir di pipi Yerin.

Yerin hanya menganga tidak percaya akan kedekatannya dengan laki-laki yang baru dikenalnya. Dan apa itu tadi? Dia menciumnya?? “Yak!!!!! Kau laki-laki kurangajar!!” Yerin berteriak pada Heechul yang hanya ditanggapi dengan lambaian tangannya ke atas tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Sekarang tinggal Yerin sendiri menyadari pandangan seluruh pengunjung kafetaria mengarah padanya. Dia langsung menundukkan kepalanya dan kembali menghabiskan makanannya. Oh Tuhan, dia malu sekali…

***

Di lain sisi, Heechul yang berjalan menjauh dari kafetaria meletakkan tangan di dada sebelah kirinya.

“Wow, efeknya lebih dahsyat dari yang kuperkirakan. Sepertinya aku harus menjaga kesehatan jantungku jika tidak ingin mati muda karena gadis itu.” Ucapnya pada diri sendiri. “Tapi menyenangkan juga menggodanya. Kurasa aku akan mendapatkan kegiatan baru.” Seringaian kembali muncul di bibirnya.

Heechul langsung mengeluarkan ponselnya ketika dia sudah berada di dalam mobil.

“Mr. Kwon, masukkan dia di Birmingham. Lebih dekat untukku mengetahui keadaannya. Pastikan semuanya berjalan lancar. Hubungi pihak universitas di sana.”

“……”

“Cambridge? Buang saja formulir pendaftarannya.” Dia menutup ponselnya dan langsung melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir. Suara ban berdecit keras ketika dia membelokkan mobilnya ke jalan raya.

Tinggal membuat Yerin menjauh dari kekasihnya, pikir Heechul. Dan sekarang Heechul harus segera mencari makan, perutnya sudah berbunyi dari tadi. Dia mengabaikan makan siangnya demi memandangi wajah Yerin yang berada tepat di depan matanya.

***

Siang itu, Donghae sedang berjalan ke kafe langganannya. Dia ingin menghabiskan waktu makan siangnya di tempat favoritnya bersama dengan Yerin. Ketika dia berjalan memasuki kafe itu, dilihatnya seorang yang tidak asing baginya, Hyejin kakak Yerin. Hyejin menggunakan dres berwarna kuning cerah selutut dengan cardigan yang menutupi bahunya. Rambut nya diikat menyamping. Sungguh cantik gadis itu, pikir Donghae.

“Hyejin-a.” panggil Donghae, dia menepuk lembut bahu Hyejin. “Kau di sini?”

“Oh, oppa. Iya, aku tadi ada janji dengan temanku di sini, tapi dia belum juga datang sampai sekarang.” Kata Hyejin sambil menatap jam tangan mungil di tangan kanannya.

“Boleh oppa duduk di sini?”

“Tentu saja boleh, oppa ingin makan siang?” Hyejin mengangkat tangannya memanggil pelayan kafe itu.

“Ya, aku dan Yerin sering makan di sini. Biasanya kami selalu berdua jika ingin ke tempat ini. Tapi tak tahu kenapa hari ini aku sangat ingin kesini sendirian.” Donghae tersenyum manis pada Hyejin dan kemudian mengalihkan pandangannya pada menu yang disodorkan pelayan. “Aku ingin satu Gourmet Sandwich, Fresh Salad dan Orange Juice.” Kata Donghae pada pelayan. “Kau mau makan apa Hyejin-a?”

“Tidak oppa, aku belum lapar. Aku tadi sudah pesan ini.” Hyejin mengangkat gelas minumannya.

“Baiklah, itu saja.” Donghae tersenyum pada pelayan di sampingnya yang langsung merona kedua pipinya ketika melihat senyuman manis Donghae.

“Kau ini, berhenti membuat semua gadis merona dengan senyuman mu oppa.”

“Hahaha… Aku tidak bermaksud membuat mereka merona, jangan salahkan aku jika aku mempunyai senyuman maut.”

“Cih, percaya diri sekali.” Hyejin tertawa menanggapi kelakar kekasih adiknya itu. Ya, kekasih adiknya. Hyejin menghela nafasnya berat ketika teringat status adiknya dan laki-laki di depannya ini. “Jadi, oppa sudah tahu kalau anak nakal itu ingin melanjutkan kuliah di luar negeri?”

“Ya, dia memberitahu ku pertama kali sebelum mengatakan pada Ayah, Ibu dan dirimu.”

“Bagaimana menurut oppa?”

“Bagaimana? Bagaimana maksudmu?”

“Ya, bagaimana pendapat oppa jika adikku yang paling manja itu melanjutkan kuliah di luar negeri?”

Donghae tersenyum sejenak. “Aku akan selalu mendukung apapun yang dia inginkan, yang terbaik untuk dirinya. Dan kurasa tidak ada salahnya membiarkan dia mandiri di negeri orang. Sekalian biar dia belajar mengurusi dirinya sendiri, agar nanti ketika dia menikah denganku, dia sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah.”

Hyejin tersenyum miris mendengar perkataan Donghae. Air muka nya seketika berubah menjadi sedih.

“Tenanglah, kau harus percaya pada adikmu sendiri. Dia pasti bisa menjaga dirinya di sana.” Kata Donghae sambil mengusap kepala Hyejin.

***

Heechul baru saja masuk di kafe, dan ketika dia duduk di meja dan akan memanggil pelayan, tampak di seberang mejanya seorang laki-laki yang wajahnya sudah dia kenali dengan baik setelah mencari data-datanya. Bersama dengan gadis mungil yang cantik, yang membuatnya merasa tidak asing dengan wajahnya.

“Jackpot…” desisnya. Walau belum tahu pasti ada hubungan apa laki-laki dan perempuan itu, tapi penglihatannya membuat Heechul merasa berada di atas angin.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s