Fan Fiction

Good Morning, Sunshine ~ Part 3

gudmorningsunshine

Poster by AidenTOP

Title : Good Morning, Sunshine

Genre : Romance

Cast :

– Kim Heechul as Kim Heechul

– Han Yerin as OC

– Lee Donghae as Lee Donghae

– Kim Kibum as Bryan Kim

– Han Hyejin as OC

“Gadis yang menarik.”

Mata laki-laki itu terus mengikuti kemana Yerin pergi, bersandar di pintu dan menyesap minumannya. Dia menyeringai senang, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. “Tunggu aku nona, kita akan bertemu lagi. Dan kau pasti akan kudapatkan.” Laki-laki itu tersenyum penuh arti, belum pernah selama hidupnya merasa seperti ini. Merasa begitu menginginkan sesuatu.

Laki-laki itu merasakan sengatan aneh waktu memegang bahu telanjang Yerin ketika dia hampir terjatuh. Wajahnya yang cantik membuatnya tidak bisa memalingkan wajah barang satu detik. Dan sialnya bagi gadis itu, dia bukanlah laki-laki yang suka bermanis-manis kepada wanita. Sikapnya justru dingin, acuh dan terkesan kejam. Itu yang publik lihat darinya. Pertemuan pertama dengan Yerin sepertinya sangat buruk. Ucapan menghina nya cukup untuk membuat Yerin membencinya. Tapi itu tak membuat nya menyesal.
Perlahan dia mengikuti Yerin dari belakang. Tapi kemudian langkahnya terhenti ketika melihat Yerin mendekati seorang laki-laki, yang kemudian melingkarkan lengannya ke pinggang Yerin. Mata laki-laki asing itu menggelap, tapi seringaian nya tidak pernah hilang dari bibirnya. Sepertinya dia sedang berpikir dan merencanakan sesuatu. Tak lama, dia berbalik meninggalkan ballroom itu.

~~00~~

“Oppa, pulang….” rengek Yerin ketika menghampiri Donghae. Donghae yang sedang berbincang dengan relasinya menoleh dan langsung melingkarkan lengannya di pinggang Yerin.

“Kenapa? Kau lelah? Kenalkan dulu, ini adalah Jung Soojin sajangnim dan istrinya. Sajangnim, ini tunangan saya, Han Yerin.”

“Oh, annyeong haseyo. Saya Han Yerin. Senang berkenalan dengan anda sajangnim.” ujar Yerin sambil membungkuk sopan.

Soojin tersenyum, “Ne, annyeong haseyo. Donghae-ssi kau pintar, tunanganmu cantik sekali. Baiklah kalau begitu, kalian anak muda silahkan nikmati acara ini. Aku dan istriku harus berkeliling dahulu.” Soojin tersenyum, menepuk pundak Donghae dan berbisik di telinga nya, “Ku tunggu undangan pernikahan kalian.”

“Ne, sajangnim.” balas Donghae sambil berbisik pula. Senyumnya terkembang sepeninggal Soojin dan istrinya. Benaknya menerawang, andai saja Yerin mau bersikap dan berpenampilan seperti ini setiap hari.

Remasan di lengan membuat Donghae tersadar dari lamunannya. Hampir saja dia melupakan kekasih di sampingnya. “Ada apa sayang?”

“Kenapa oppa melamun dan tersenyum seperti itu? Dan apa yang dikatakan Soojin sajangnim tadi? Berbisik-bisik seperti itu.”

Donghae memiringkan kepalanya. Benar-benar Yerin yang selalu penasaran dan ingin tau. Donghae jadi ingin sekali menggodanya. Ditariknya tubuh Yerin hingga menempel di tubuhnya. Ketika dilihatnya mata Yerin mengerjap karena kaget, Donghae menundukkan wajahnya sedikit menyapukan bibirnya di telinga Yerin dan berbisik, “Dia menyuruhku untuk segera menikahimu. Kau mau?”

“Ha?” Yerin terkejut karena perlakuan Donghae dan belum sepenuhnya menyadari perkataan kekasihnya. Dia hanya mengernyitkan dahinya. Ketika Donghae melepaskan pelukan nya dan menyentil pelan hidung nya, baru Yerin tersadar akan ucapan Donghae. “Apa? Oppa mau menikahiku? Oppa bertanya apa aku mau menikah dengan oppa? Aku mau oppa.. Aku mau!!”

Tak sadar, Yerin sedikit berteriak dan membuat Donghae terpaksa membungkam mulutnya agar tidak menarik perhatian tamu lain. Donghae tertawa, dan menarik Yerin keluar dari ballroom itu. Mengajaknya pulang.

“Jadi, oppa benar akan menikahiku?” tanya Yerin ketika mereka sudah berada di dalam mobil.

“Mmmm… Biarkan oppa berpikir dulu,” Donghae pura-pura berpikir, mengerutkan kening dan meletakkan jari telunjuk di depan bibir. “Oppa akan menikahimu, besok kalau perlu. Asal kau mau merubah penampilanmu dan membatalkan keinginanmu untuk berkuliah di luar negeri. Bagaimana?” Donghae menatap ke dalam mata Yerin.

Sungguh, yang dikatakannya baru saja adalah benar-benar keinginan dari hati nya. Donghae ingin Yerin merubah penampilannya sekarang menjadi lebih anggun. Agar penampilannya bisa lebih pantas ketika mereka berdua bersanding. Dan juga, dia merasa tidak tenang jika merelakan Yerin tinggal sendiri di luar negeri.

Yerin menunduk dan bergumam, “Jadi….oppa tidak akan pernah menikahiku kalau begitu. Sepertinya, aku begitu sulit untuk berubah seperti keinginan oppa. Aku tidak bisa menjadi secantik dan seanggun Hyejin eonnie.” Perlahan setitik cairan bening jatuh membasahi pipi Yerin.

“Hei, bukan seperti itu maksudku. Aish… kenapa malah menangis? Ssttt…. hal ini tidak usah kita bicarakan lagi ya. Dan kau harus percaya kalau oppa sangat mencintaimu.” kata Donghae sambil mengusap punggung Yerin, menenangkannya. “Jadi, Yerin-a masih ingat tujuan hidupmu? Kau hanya perlu mengingat kalau aku akan selalu mencintaimu. Di luar semua tingkah lakumu yang seperti anak kecil itu. Oke.”

“Menjadi istri seorang Lee Donghae. Itu tujuan ku oppa. Dan…kuharap kau tak akan pernah mengingkari janjimu itu.” Yerin mendongak menatap mata Donghae, yang ditanggapi senyuman manis seperti biasanya.

Tanpa mereka sadari, ada mata yang mengawasi mereka dari kejauhan. Terdengar seperti sedang memberikan perintah lewat telepon genggam nya, “Awasi dan ikuti mobil Bentley Silver yang akan keluar gedung sekarang. Jangan sampai tertinggal. Cari tau dimana rumah dan semua info lengkap tentang perempuan di dalam mobil itu. Mengerti?”

“……”

Dengan tenang dia menutup telepon genggam nya dan memasukkan ke dalam saku jas nya. “Kau akan segera bertemu lagi denganku, Angel.” Ucap laki-laki itu dengan seringaian misteriusnya.

~~00~~

“Jadi, kenapa kau terburu-buru ingin pulang? Kau tidak nyaman dengan pestanya?” tanya Donghae ketika berada di mobil. “Atau kau sudah merindukan gadget-gadget mu itu?”

“Bukan, oppa. Tadi aku bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan. Aku tak tahu siapa dia, yang jelas dia masuk dalam daftar orang terakhir yang ingin ku temui di muka bumi ini.”

“Memangnya dia melakukan apa sampai kau memasukkan dia dalam daftar terkutuk itu?”

“Tadi, sewaktu aku bosan ketika oppa berbincang dengan relasi oppa, aku pergi ke balkon. Karena aku merasa pegal, aku melepas sepatuku, dan hampir saja terjatuh kalau tidak ada yang memegangi bahuku.” Yerin bercerita seperti anak kecil yang menceritakan mainan baru kepada temannya. Mau tak mau itu membuat Donghae menjadi geli.

“Lalu…?”

“Aku tak sengaja menumpahkan minumanku ke pakaiannya oppa. Itu kan karena aku tidak tahu, dan juga tubuhku tidak seimbang. Bukan salahku sepenuhnya dong. Dan sialnya, namja aneh itu malah meledekku. Mengataiku, kalau aku kampungan, yang belum pernah memakai gaun sebelumnya dan tidak bisa mengenakan high heels.”

“Tunggu, jadi dia namja? Laki-laki?” Donghae memicingkan matanya. “Benar dia mengatakan itu padamu? Menyebalkan sekali sepertinya ya.”

“Iya!! Dan waktu aku mengatakan akan mengganti jasnya yang basah dia menanyakan berapa banyak uang yang kumiliki untuk mengganti jas mahalnya. Aish, benar-benar.. Rasanya aku ingin mencincangnya hidup-hidup.” Kata Yerin sambil mengepalkan tangannya.

“Namja, menyebalkan. Rasanya relasi oppa tidak ada yang bertingkah menyebalkan terhadap wanita. Bagaimana ciri-cirinya?”

“Dia berambut sedikit agak panjang, tubuhnya tinggi. Dan kulitnya, seputih susu. Bagaimana bisa seorang laki-laki mempunyai kulit seperti itu. Tatapan matanya seperti malaikat pencabut nyawa, mengerikan sekali. Umurnya, mungkin sama dengan oppa.”

“Apakah dia tampan? Lebih tampan mana dariku?” goda Donghae.

“Aaaahhh, sudahlah oppa jangan menanyakan tentang orang itu lagi. Membuatku jadi lapar saja. Dan tidak, dia tidak lebih tampan dari kau oppa. Donghae oppa yang paling tampan untukku.”

“Arrasso. Kita langsung pulang atau kau mau makan di restoran dulu?”

“Pulang saja oppa, aku sudah capek sekali dan ingin segera tidur. Tidak apa-apa kan?”

“Of course, My Princess.” Kata Donghae. Melirik Yerin sambil tersenyum, dan mengusap puncak kepala Yerin. Yerin yang mendapat perlakuan seperti itu, perlahan merasa nyaman dan mengantuk. Akhirnya dia tertidur di mobil Donghae.

Yerin tidak pernah merasa khawatir tertidur di mobil Donghae. Karena dirinya percaya Donghae adalah laki-laki yang baik dan pasti akan menjaganya. Hubungan mereka berdua bukanlah hubungan yang terkesan meledak-ledak. Karena sifat Donghae yang lembut dan tingkah Yerin yang asal-asalan, mereka menjalani hubungan ini dengan santai dan lebih seperti hubungan adik dan kakak. Kontak fisik yang mereka lakukan pun hanya sebatas pelukan, ciuman di dahi dan pipi. Kecupan kecil di bibir sesekali. Tidak pernah lebih dari itu. Karena itulah, Yerin bisa setenang itu di dalam mobil Donghae. Bisa dibilang gadis itu dan orangtuanya sudah mempercayai Donghae seratus persen.

Yerin masih tertidur lelap ketika mobil Donghae masuk ke pekarangan rumahnya. Karena tidak tega untuk membangunkannya, Donghae memilih untuk membopong Yerin setelah sebelumnya menekan bel rumah Yerin.

“Aigoo.. Anak ini selalu saja merepotkanmu Donghae-ya. Seharusnya kau bangunkan saja dia tadi, jadi kau tidak perlu menggendong nya seperti ini.” Kata Ibu Yerin ketika membukakan pintu rumah.

Donghae tersenyum, “ Tidak apa-apa Bu. Tidak tega membangunkan anak nakal ini. Sepertinya dia terlalu lelah.”

“Ya, ya bawalah dia ke lantai atas Donghae-ya.”

Donghae membawa Yerin ke kamarnya di lantai dua. Sudah seperti rumahnya sendiri, Donghae mengenal baik rumah ini. Donghae merebahkan Yerin di tempat tidurnya. Melepaskan high heelsnya dan menyelimuti tubuh Yerin. Sekilas dia melihat sekeliling kamar, ruangan bercat biru muda – warna kesukaan Yerin – yang penuh dengan foto dirinya, tumpukan buku-buku bacaan yang tergeletak di meja belajar, dan beberapa perangkat elektronik kesukaan gadisnya. Donghae menghela nafas sejenak, memandang wajah Yerin kemudian mencium dahinya dan turun untuk mengecup bibir mungil gadis itu. “Selamat tidur, sayang.”

Ketika Donghae menutup pintu kamar Yerin, dilihatnya Hyejin bersandar di pintu kamarnya yang terletak di depan kamar Yerin. Ketika pandangan mereka bertemu, Hyejin segera mengalihkan tatapan matanya ke lantai. Donghae yang bingung kemudian bertanya, “Kau belum tidur Hyejin-a?”

“Belum. Oppa, kenapa ada di kamar Yerin?”

“Hahaha… Kau mencurigaiku Hyejin-a? Tenanglah, adikmu aman bersamaku. Dia hanya tertidur sewaktu di mobil tadi, dan aku tak tega untuk membangunkannya, jadi aku menggendongnya ke kamar. Tanyakan saja pada Ibu kalau kau tak percaya”

“Ya, kau pasti tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak. Beruntungnya Yerin mendapatkanmu oppa.” Gumam Yerin pada dirinya sendiri.

“Emm.. kau mengatakan apa Hyejin-a?” Tanya Donghae ketika samar mendengarkan Hyejin berbicara.

“Ah, tidak oppa. Bukan apa-apa. Sudah malam, sebaiknya kau segera pulang. Terimakasih sudah mengantarkan Yerin pulang.”

Donghae tersenyum, “Baiklah, selamat malam Hyejin-a.”

Donghae termenung ketika berada di dalam mobil. Bayangan Yerin dan Hyejin berkelebat di pikirannya. Melihat Hyejin yang begitu anggun walau berada dalam gaun tidur nya mau tak mau mengganggu konsentrasi Donghae. Dia terus berpikir mengapa Yerin tidak pernah mau berpenampilan seperti kakaknya. Seperti Hyejin yang anggun, feminim dan…. cantik. “Ya Tuhan, apa yang ku pikirkan?” kata Donghae sambil memukul kepalanya sendiri.

Tak lama Donghae pun menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah keluarga Han. Mobilnya melaju membelah jalanan Seoul di malam hari. Ada sesuatu yang berubah di hatinya. Dan dia belum mengetahui dengan pasti apa perubahan itu. Kepalanya sudah cukup pusing untuk memikirkan hal itu. Yang diinginkannya sekarang adalah segera sampai di apartemennya dan kemudian tidur.

~~00~~

Dua hari setelah acara “kencan” nya dengan Donghae, Yerin memutuskan untuk memberitahu orangtua dan kakaknya tentang rencananya mendapatkan beasiswa dan berkuliah di Inggris. Pagi hari, ketika semua keluarganya berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi.

“Ehm..” Yerin mencoba menjernihkan suaranya. “Ayah, Ibu, Eonnie bolehkan aku berbicara kepada kalian?”

Ayah dan Ibunya segera menatap putri bungsu nya. Sedangkan Hyejin hanya melihat sekilas kemudian melanjutkan sarapannya.

“Ada apa sayang? Tumben sekali kau meminta ijin terlebih dahulu ketika akan berbicara?” Tanya Tuan Han, ayah Hyejin dan Yerin.

“Emm… Sebenarnya aku sudah ingin membicarakan ini beberapa hari yang lalu Ayah, Ibu tapi aku belum berani.”

“Jadi sekarang kau sudah berani, huh?” kata Ibunya sambil tertawa gemas.

“Ibu…” merasa ditertawakan, Yerin merengek kepada Ibunya. “Jadi begini, aku sebenarnya ingin meminta ijin pada kalian semua. Aku ingin melanjutkan kuliahku di Inggris. Dan aku sudah menyiapkan semua berkas untuk mendapatkan beasiswa di sana.” Kata Yerin dalam satu tarikan nafas, tegang menunggu reaksi dari keluarganya. Dan yang pertama kali bereaksi adalah kakaknya –Hyejin-, dia hampir saja menyemburkan air putih yang diminumnya kalau tidak segera menutup mulutnya dengan tangan.

“Ya, kau anak nakal!! Tidak salah kau berbicara seperti itu? Aku tidak setuju. Bagaimana nanti kau mengurus dirimu di sana? Kau ini sangat manja, tidak bisa memasak, bagaimana kehidupanmu nanti di sana? Jauh dari Ayah, Ibu dan aku. Apa kau sanggup, anak nakal?” Hyejin terlihat kesal dengan permintaan Yerin tadi.

“Benar kata kakakmu Yerin-a. Ibu mohon pikirkanlah lagi. Ibu tidak akan pernah tega membiarkanmu hidup sendiri di Negara lain. Kau masih kecil sayang, apa kau bisa menjaga dirimu di sana nanti? Ibu tidak setuju. Ayah, katakana sesuatu.” Ibu Yerin tampak memandang suaminya, matanya seolah-olah meminta pendapat yang sama dari suaminya.

“Hhhh…” Tuan Han menghembuskan nafasnya sebelum berbicara. “Apa universitas di Korea tidak ada yang bagus Yerin-a? Ayah bisa memindahkanmu ke universitas yang lebih bagus daripada universitasmu sekarang. Tapi apakah harus ke luar negeri? Ke Inggris? Kau itu anak perempuan sayang.”

“Tapi ayah, ibu.. aku sangat menginginkannya. Cita-citaku dari dulu adalah berkuliah di Inggris. Kumohon, ijinkan aku.” Ucap Yerin sambil menundukkan kepalanya. Dia mengerjapkan matanya ketika air mata sudah hampir jatuh. “Aku akan menjaga diriku, dan di sana nanti akan ada perkumpulan mahasiswa dari Korea yang bisa menjadi temanku Ayah. Selain itu, disediakan asrama bagi mahasiswa yang berasal dari luar Negara Inggris. Ku mohon.”

“Ayah akan memikirkan nya lagi Yerin-a. Tapi Ayah belum tentu menyetujui keinginanmu ini.”

“Ayah!!” Ibu dan Hyejin serentak berteriak kepada Tuan Han

“Tidak perlu dipikirkan Ayah. Apa Ayah tega melepaskan anak mu sendirian ke luar negeri, jauh dari jangkauan kita? Putri kecil kita. Ibu tidak akan pernah sanggup untuk berjauhan darimu nak, Yerin-a.” ucap Ibu Yerin sedih.

“Ibu, aku tidak selamanya di sana. Aku akan pulang ke Korea tiap liburan. Ijinkan aku Ibu.” Yerin bangkit dari duduknya, mengitari meja dan memeluk bahu ibunya. “Aku menyayangimu ibu, tapi kali ini ijinkanlah aku mengejar cita-citaku.”

“Haahhhhh….” Terdengar helaan nafas dari Hyejin

“Sudah, Ayah dan Ibu akan pikirkan dulu. Kami harus memastikan semuanya baik untukmu Yerin-a. Sekarang habiskan sarapanmu dan segera berangkat kuliah.” Ujar Tuan Han tegas.

“Baik Ayah.”

Setelah selesai sarapan, Yerin segera menyambar tas selempang nya dan bergegas berangkat menuju tempat kuliahnya. Ketika dia sedang menunggu bus di halte, dia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Sudah sejak tadi sebenarnya dia merasakan hal itu, tapi dia mengacuhkannya. Dan sekarang, ketika halte itu tidak terlalu ramai malah membuat Yerin menjadi ketakutan. Matanya berputar mengedarkan pandangannya ke sekeliling halte. Mencari tahu barang kali ada seseorang yang gerak-geriknya mencurigakan. Tapi tak ditemukannya orang itu. Semua nya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, di toko, di jalan raya, tidak ada yang terlihat sedang mengawasinya. Yerin tidak menyadari, bahwa sepasang mata yang terus mengawasinya itu berada di balik tembok di belakang Yerin.

Yerin bisa bernafas lega ketika bus yang akan mengantarkannya ke universitas telah datang. Setidaknya dia bisa bernafas lega dan tidak perlu merasa was-was lagi.

Tak lama setelah Yerin memasuki gerbang kampus nya, terlihat seorang laki-laki memakai setelan hitam sedang mengawasinya dari dalam mobil. Sepertinya dia sedang menelepon seseorang. “Tuan, gadis itu bernama Han Yerin. Dia tinggal bersama orang tua dan kakaknya di kawasan Cheongdam, Distrik Gangnam. Dia kuliah di Seoul National University. Dan laki-laki yang mengantarkannya semalam adalah tunangannya yang berprofesi sebagai dokter di Samsung Medical Center.”

“…………”

“Adakah info yang harus saya cari lagi?”

“…………”

“Baik. Terimakasih Tuan.”

~~00~~

Di sebuah apartemen di kawasan Apgujong, duduk seorang laki-laki yang baru saja menerima telepon dari anak buahnya.

“Cheongdam, Seoul National University. Ternyata menemukanmu tidak sesulit dugaanku semula Angel, Han Yerin.” Ujar laki-laki itu sambil tersenyum misterius.

Tak lama dia mengutak-atik kembali telepon genggamnya, menghubungi seseorang. “Mr. Kwon, ini saya. Bisakah saya meminta bantuan Anda? Saya minta semua informasi tentang salah satu mahasiswa di Universitas Anda.”

“………”

“Han Yerin. Namanya Han Yerin.”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s