Fan Fiction

Good Morning, Sunshine ~ Part 2

gudmorningsunshine

Poster by AidenTOP

Title : Good Morning, Sunshine

Genre : Romance

Cast :

– Kim Heechul as Kim Heechul

– Han Yerin as OC

– Lee Donghae as Lee Donghae

– Kim Kibum as Bryan Kim

– Han Hyejin as OC

Sejak pagi Yerin sudah sibuk mengobrak-abrik lemari pakaian kakaknya. Semua baju yang ada di dalam lemari pakaian dikeluarkan. Yerin mematut diri dan mencoba satu per satu baju milik Hyejin-kakaknya.

“Ini terlalu pendek… Ini tidak ada lengannya… Woooo.. Ini belahan dadanya terlalu rendah…” Tangan Yerin otomatis memegangi dadanya. “Dadaku tidak sebesar dada Hyejin eonnie. Bagaimana kalau nanti melorot?” Sambil menggelengkan kepalanya, Yerin melemparkan gaun berwarna hitam ke tumpukan baju di tempat tidur.

“Hah, bagaimana ini?” Yerin menghela nafas sambil menatap lemari penuh gaun dan tubuhnya bergantian.

Gadis itu selalu merasa tidak nyaman bila menggunakan gaun atau segala macam bentuk rok. Sangat bukan dirinya. Di saat dia sedang kebingungan, kakaknya datang, masuk ke kamarnya yang telah disulap dalam sekejap menjadi seperti kapal pecah oleh Yerin.

“Apa-apaan ini? Kau apakan gaun-gaunku Yerin-a? Cepat bereskan!”

“Eonnie!! Kau mengagetkanku!” Yerin tersadar dari lamunannya. Mendengar suara kakaknya yang sudah dipastikan marah padanya.

“Jangan marah-marah dulu eonnie cantik. Kau boleh marah, tapi nanti. Sekarang, kau harus membantu ku. Carikan aku gaun, ah bukan, aku pinjam gaun mu untuk pergi bersama Donghae oppa. Jebal.” Kata Yerin sambil membuat mukanya menjadi seimut mungkin.

“Tidak usah menunjukkan muka seperti itu di hadapanku Yerin-a. Tidak akan mempan. Tapi tadi apa kau bilang? Pinjam gaun untuk pergi bersama Donghae oppa? Kalian akan berkencan? Dinner? Dimana? Pantai atau restoran mewah?”

“Wa..wa..wa, imajinasimu terlalu berlebihan eonnie. Sebaiknya kau kurangi intensitas menonton drama-drama itu. Dan, oppa tidak mengajakku berkencan. Dia memintaku menemaninya dalam acara penggalangan dana untuk amal. Dia mengharuskanku menggunakan gaun dan high heels. Kau sudah menjadi kakakku selama 22 tahun. Jadi kau pasti tau kalau aku tidak pernah mempunyai barang-barang seperti itu. Jadi, lebih baik sekarang kau bantu aku. Karena acaranya nanti malam. Aku tidak mau Donghae oppa marah padaku, dan aku tidak jadi mendapatkan tablet baru darinya.”

“Kau itu benar-benar kurangajar Yerin-a. Kau sudah mengacaukan isi lemariku, menyuruhku mencarikan gaun untukmu. Sekarang kau berani menceramahiku? Dasar, dongsaeng kurangajar.” Hyejin memukul kepala Yerin pelan. Yang dipukul hanya meringis sambil memegangi kepalanya.

“Sekali ini saja eonnie-ya. Bantu aku ya. Nanti aku kenalkan eonnie kepada teman laki-laki ku. Ya?”

“YAKK!! Tidak usah berlagak sebagai biro jodoh. Kau kira eonnie mu ini tidak laku sampai harus kau jodohkan dengan teman-temanmu? Lagipula, temanmu pasti tidak beda jauh dengan mu. Dan eonnie tidak mau punya pacar yang hanya mementingkan komputer saja. Sini, kita lihat gaun apa yang cocok untukmu.” Hyejin menarik Yerin mendekat sambil mengambil beberapa potong gaun dari lemarinya.

Hyejin memberikan gaun pertama pada Yerin, halter neck dress dengan panjang 5cm di bawah lutut, berwarna merah dengan aksen tali di pinggangnya.

“Eonnie, bagian lehernya kenapa terbuka sampai dada? Tidak-tidak. Aku tidak mau memakainya.”

“Ini bagus Yerin-a. Kau pasti anggun ketika memakainya.”

“Tidak, eonnie. Carikan aku gaun yang lain.”

“Huft..” Hyejin menghela nafas kesal, mengambil gaun berikutnya. “Ini bagaimana? gaunnya panjang, dan bagian dadanya tertutup setidaknya tidak seterbuka yang tadi.”

“Kau mau membuat aku sakit eonnie-ya? Bagaimana mungkin aku bisa bertahan menggunakan gaun backless seperti itu? Iihhh… Yang lain saja.”

“Kau membuatku emosi, saeng-i. Ini saja kalau begitu. Ini tidak seperti yang tadi. Aku jarang menggunakan gaun ini.” ujar Hyejin sambil memberikan gaun sleeveless berwarna peach dengan aksen pita kecil di bawah dada. “Kau bisa menggunakan selendang untuk menutupi bahumu? Bagaimana? Kau coba dulu lah.”

“Manis, aku suka modelnya. Tidak terlalu seksi pula. Hahaha, eonnie aku pakai yang ini saja. Tapi eonnie, kau tau kan punyaku tidak terlalu besar. Apa kau punya pengganjal supaya terlihat besar?” kata Yerin sambil menunjuk ke arah dadanya.

“Aish, bocah gila. Sudah, kau coba saja dulu. Kata-katamu itu membuatku malu kau tau?

“Hahaha.. eonnie, kau lucu sekali. Tapi memang benar eonnie, aku beruntung sekali Donghae oppa tidak selalu menilai perempuan dari segi fisik. Kalau tidak, mana mungkin dia mau denganku yang tidak pernah berdandan ini. Sudahlah, aku mau mencoba gaun ini dulu.”

Hyejin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, geli melihat kelakuan adik semata wayangnya. Tak lama, Yerin keluar dari kamar mandi menggunakan gaun pinjaman dari Hyejin. Dan dia sangat cantik, Hyejin yakin banyak orang akan terpesona jika adiknya mau berdandan seperti ini.

“Bagaimana eonnie? Kenapa rasanya seperti ini sih? Aku merasa seperti telanjang kau tau? Ish, jadi perempuan kenapa sangat susah sekali?” Yerin menggerutu terus menerus kepada kakaknya, merasa tidak nyaman dengan pakaiannya.

“Kau cantik, tinggal mendandanimu sedikit, mengatur rambutmu dan memilih sepatu untukmu. Jam berapa Donghae oppa menjemputmu? Ku harap masih ada waktu untuk pergi ke salon langgananku.” kata Hyejin tidak mempedulikan omelan adiknya.

“Jangan sampai teman-temanku melihatku seperti ini eonnie, bisa-bisa aku diledek oleh mereka. Aish.. Jam 7 eonnie, dan aku tidak mau ke salon. Aku tidak mau menjadi seperti badut. Mengerikan sekali.”

“Terserah kau sajalah, sepertinya aku memang harus menyeretmu atau menelepon Donghae oppa memberitahukan kalau kau tida-” Yerin membekap mulut Hyejin.

“Baiklah-baiklah, ayo kita ke salon-sialan- itu sekarang. Eonnie, kau itu cantik sekali, tapi hanya ketika kau tidak menjadi pengadu. Dosa apa aku punya pacar dan eonnie seperti kalian ini.”

“Harusnya kau lebih memperhatikan penampilanmu Yerin-a. Kau itu perempuan, sudah sewajarnya kau merawat diri, berdandan dan menggunakan pakaian-pakaian yang lebih feminim. Ayah ibu pasti akan sangat senang, jika melihat kau berdandan. Donghae oppa pun demikian. Pernahkah kau berfikir, berapa banyak perempuan cantik yang mengejar kekasihmu itu. Kau tak lupa kan kalau Donghae oppa itu tampan?”

“Tak usah kau ingatkan itu eonnie. Aku yakin Donghae oppa tidak akan tertarik dengan perempuan-perempuan itu. Dan soal ayah ibu, bisakah tidak usah dibicarakan lagi? Aku sungguh bosan selalu dibandingkan denganmu.”

Yerin merengut, membereskan gaun-gaun kakaknya. Memasukkan mereka kembali ke tempatnya. “Aku lapar, aku makan dulu. Setelah makan aku akan mengikutimu kemanapun.”

Hyejin hanya diam menatap punggung Yerin yang menghilang di balik pintu kamarnya. Dia sangat menyayangi adiknya, dia tidak ingin adiknya menjadi manja. Dia mengharapkan adiknya menjadi orang yang mandiri dan bisa menempatkan diri. Tapi dia juga tidak tega, jika ayah ibunya selalu membandingkan Yerin dengan dirinya.

******

“Ibu ku sayang…” Yerin memeluk ibunya dari belakang dan mengecup pipinya. “Aku lapar.”

“Keributan apalagi yang kau buat hmm? Ibu dengar dari bawah sini, sepertinya kau mengganggu kakakmu lagi.” Ibu Yerin mengelus pelan tangan yang melingkar di perutnya.

“Aniyo, aku meminjam gaun milik Hyejin eonnie. Donghae oppa mengajakku keluar nanti malam, dan syaratnya aku harus memakai gaun. Hufftt.”

“Wow, benarkah? Kau pasti cantik sekali nanti sayang.” Sambil membalikkan badan, ibu Yerin menyentil pelan ujung hidung anaknya.

Yerin tersenyum kecut, kenapa semua orang suka sekali memaksakan dirinya untuk berpenampilan seperti Hyejin eonnie? Dia hanya ingin menjadi dirinya. Dia bisa menjadi mandiri dan tidak manja lagi, tapi kalau harus berpenampilan seperti kakaknya dia yakin dirinya tidak bisa. Apa semua orang menilai hanya dari tampilan luar saja? Dia pintar, tidak pernah melakukan hal buruk, dia juga baik, setidaknya begitulah yang diucapkan teman-teman kuliahnya. Tapi tidak dengan orang tuanya. Mereka selalu menganggap Yerin sudah terpengaruh oleh anak-anak nakal karena gaya berpakaiannya yang seperti itu. Karena itu pulalah, sejak menjadi kekasihnya, Donghae yang juga diminta orang tua Yerin selalu mengantar dan menjemput Yerin. Memastikan dirinya tidak melakukan hal yang buruk, atau diajak teman-temannya ke tempat yang tidak semestinya.

Hyejin turun ke bawah sambil membawa bungkusan besar ketika Yerin menyelesaikan makannya. Sepertinya itu adalah gaun yang tadi dipinjamnya.

“Sudah selesai makannya? Kajja, kita berangkat sekarang saja.”

“Ne.”

Mereka berdua pergi ke salon langganan Hyejin. Sepertinya dia bersemangat sekali merubah penampilan adiknya ini. Segudang rencana sudah disusunnya.

“Yerin-a, setelah dari salon nanti kita harus mencari sepatu untukmu. Gaun cantik itu tidak akan cocok dengan sepatu Converse mu.”

“Ck, terserah kau lah.”

Yerin hanya bisa pasrah muka dan rambutnya dikerjakan oleh pegawai salon langganan kakaknya. Dia hanya berpesan supaya dandanannya jangan terlalu menor. Dan apa yang terjadi? Yerin tertidur selama treatment. Dia tidak menyadari rambut dan mukanya sudah dipermak habis-habisan. Rambut panjang – tidak terawat – nya sudah dipotong menjadi sebahu, sedikit di blow agar mengembang. Rambut sebelah kanannya di jepit kebelakang, menampakkan cuping telinganya. Ditambah jepit bunga yang manis. Poninya juga dipotong pendek, tidak lagi menutupi mata indahnya.

Dan wajahnya, tentu saja tidak menor seperti yang Yerin khawatirkan. Ini adalah salon profesional langganan Hyejin, dan tidak sembarang orang yang menggunakan jasanya. Yerin diberi make-up natural, dengan warna-warna pastel yang mendominasi. Sentuhan terakhir, lip gloss berwarna peach disapukan di bibir mungilnya. Luar biasa, Yerin bisa tertidur nyenyak dan tak terganggu oleh aktifitas perias.

Hyejin puas dengan hasil akhirnya, adiknya tampak cantik. Yah, melupakan kelakuan adiknya yang sama sekali tidak manis maka tampilan adiknya kali ini adalah sempurna. Hyejin mengguncang pelan bahu Yerin, membangunkannya. Tidak ada respon dari adik tercintanya, membuat Hyejin menggulung majalah yang dibawa dan…

Puk. “Bangun Yerin-a, sampai kapan kau mau tidur hah?” ujar Hyejin sambil memukul lengan Yerin

“Aww….. apa-apaan kau eonnie?” Yerin kaget, mengerjapkan matanya tidak sadar kalau dirinya sudah sangat berubah.

“Eh? Ini… aku?? Benarkah? Kenapa aku jadi cantik?” dengan tampang bodoh, Yerin bertanya kepada Hyejin.

“Dari dulu kau itu sudah cantik, hanya saja kau tidak pernah mau memperlihatkannya. Bagus bukan? Yuk, cari sepatu.”

Penderitaan Yerin belum berhenti, dan kakaknya masih dengan senang hati menyiksanya. Membawanya ke toko sepatu, tidak ada sepatu kets atau flat shoes. Yang ada hanya wedges dan high heels. Seketika Yerin bergidik membayangkan jika seseorang terkena lemparan heels yang runcing itu. Kakaknya memilihkan sepatu dengan tinggi 12 cm, sepatu yang terlihat glamor dengan bling-bling di tali-talinya. Bagus, tapi tidak bagus untuk Yerin. Dia langsung terjatuh ketika akan mencoba sepatu tersebut. Setelah mencari-cari hampir di semua sudut toko, akhirnya pilihan Yerin jatuh pada high heels bertali warna hitam dengan tinggi 9 cm. Sepertinya dia masih bisa memakai sepatu setinggi itu.

Penampilan Yerin sudah sempurna ketika pulang ke rumah. Tinggal menunggu Donghae menjemput untuk datang ke acara penggalangan dana di ballroom salah satu hotel di Seoul. Dan ketika Donghae datang, dia memandang tak percaya. Gadis nya, gadis acak-acakannya berubah menjadi secantik bidadari. Tak sadar, Donghae terus tersenyum sambil memandang Yerin. Yerin hanya tersenyum kikuk merasakan pandangan Donghae kepadanya.

“Kau, cantik sekali Yerin-a.” bisik Donghae di telinga Yerin, membuat dada Yerin berdebar kencang. Dan kemudian seakan jantungnya mau copot ketika Donghae mencium pipinya lembut.

“Mari, princess. Saya akan menjadi tongkat Anda selama acara ini berlangsung.” Donghae melingkarkan lengan Yerin di tangannya. Dan disambut cubitan kecil di perutnya.

“Jangan menggodaku, oppa.” kata Yerin, menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.

Ketika sampai di hotel dan memasuki ballroom hotel, seketika mereka berdua menjadi sorotan semua tamu undangan. Para wanita, memandang kagum pada Donghae yang entah kenapa tingkat ketampanannya meningkat 100%. Dan tidak sedikit pria yang memandang Yerin dengan tatapan memuja. Yerin yang tidak pernah ditatap seperti itu oleh banyak orang langsung menjadi gugup. Perlahan dia menggoyangkan lengan Donghae.

“Oppa, kenapa mereka menatapku seperti itu? Kalau mereka menatap oppa, aku sudah tidak heran lagi karena oppa memang tampan. Tapi kalau aku? Aku takut oppa.”

Donghae mengusap punggung tangan Yerin, menenangkannya. “Itu karena kau sangat cantik malam ini. Sudah, tidak usah dipikirkan.” Donghae lantas menuntun Yerin ke arah gerombolan orang yang Yerin tau pasti orang-orang penting. Terlihat dari pakaian mereka yang wah dan bermerk. Akhirnya dia tau, mereka adalah para petinggi baik di Department Kesehatan maupun di Rumah Sakit tempat Donghae bekerja. Maklum, Donghae bekerja di salah satu Rumah Sakit terbaik di Asia. Walaupun bukan anggota direksi, tetapi dia masih bisa dikategorikan sebagai orang penting di dunia kesehatan Korea Selatan.

Yerin sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan mereka, sampai akhirnya acara penggalangan dana tersebut dimulai. Tidak semua yang hadir di acara tersebut adalah orang yang benar-benar dermawan. Sebagian dari mereka hanya menggunakan acara tersebut sebagai ajang pamer harta kekayaan. Berusaha menjadi nomor satu. Dan itu membuat Yerin muak, penampilan luar mereka saja yang bagus tapi hati mereka busuk.

Merasa bosan dan tidak tau kapan acara tersebut akan berakhir, akhirnya Yerin meminta ijin Donghae untuk mengambil minuman. Setelah mendapatkan minumannya, Yerin tertarik untuk mendatangi ujung ballroom yang ternyata adalah sebuah balkon. Dia memandang keluar, melihat jalanan Seoul di malam hari. Lampu-lampu dan jalanan yang masih saja ramai. Dia menyandarkan badannya di balkon, kemudian melepas sepatunya. Kakinya terasa sakit.

“Uh,” keseimbangannya goyah setelah kedua kakinya lepas dari sepatu, hampir saja dia terjatuh kalau saja tidak ada tangan kekar yang memegangi bahunya. Sialnya, gelas yang tadi dipegangnya tumpah ke belakang mengenai jas penolongnya.

“Aish.. Kau!”

“Maaf, maaf Tuan. Aku tidak sengaja. Maafkan aku.” kata Yerin ketika membalikkan tubuhnya, hendak membersihkan jas lelaki asing itu. Tangannya berusaha membersihkan jas itu, tapi si pemilik jas malah memegang tangan Yerin dan menatap matanya.

“Kau, tidak pernah pergi ke pesta? Tidak pernah memakai high heels? Kampungan sekali. Dan sekarang, jas mahal ku ini kau kotori dengan minumanmu?”

Yerin memicingkan matanya. Sombong sekali laki-laki ini.

“Maafkan aku, aku akan mengganti jasmu. Walau aku bukan orang kaya, tapi aku masih sanggup untuk mengganti jasmu itu dengan uang tabunganku. Berikan saja alamat mu, dan tunggu jas barumu.” kata Yerin dingin sambil menyentakkan genggaman tangan laki-laki asing itu.

Yang diajak bicara hanya tersenyum sinis. “Uang tabunganmu? Ada berapa jumlah uang di tabunganmu anak kecil?”

Yerin merasa darahnya mendidih mendengar hinaan orang di depannya. Tapi dia harus menahan emosinya, dia tidak boleh mempermalukan Donghae di tempat ini.

“Terserah. Sekarang, biarkan aku pergi.” ujar Yerin sambil memakai kembali sepatunya. Ketika dia mulai melangkah meninggalkan balkon, rasa sakit di tumitnya menjadi. Sedikit kehilangan keseimbangan, dia langsung mencari pegangan. Setelah merasa baikan, dia mulai melangkahkan kaki menuju ke tempat Donghae berada. Dia tidak menyadari, tatapan laki-laki asing itu masih terus mengikutinya.

Sambil tersenyum, laki-laki itu berkata, “Gadis yang menarik.”

TBC

with love :*

nemorella

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s