Fan Fiction

Good Morning, Sunshine ~Part 1

gudmorningsunshine

Poster by AidenTOP

Title : Good Morning, Sunshine

Genre : Romance

Cast :

– Kim Heechul as Kim Heechul

– Han Yerin as OC

– Lee Donghae as Lee Donghae

– Kim Kibum as Bryan Kim

– Han Hyejin as OC

Tujuan hidup seorang Han Yerin adalah menjadi istri Lee Donghae, seorang dokter sukses dan masih muda.
Tapi karena tuntutan pendidikan, Yerin terpaksa meninggalkan Donghae untuk meneruskan kuliahnya di Inggris.
Ketika Yerin kembali ke Korea, ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa kekasihnya, Donghae telah berselingkuh di belakangnya.

Hal ini membuat Yerin terpukul dan sangat kacau. Di saat dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, tiba-tiba muncul laki-laki yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Menawarkan sebuah kesepakatan yang langsung disetujui oleh Yerin. Tanpa Yerin tahu, dampak dan kenyataan lain yang akan ia ketahui di masa depan.

Siapakah laki-laki itu? Apakah kesepakatan yang ditawarkan kepada Yerin? Dan siapakah wanita selingkuhan Donghae?

Oppa, annyeong” Yerin memeluk lengan lelaki di hadapannya dengan manja. Penampilannya masih seperti biasa, cuek, tidak beraturan, dan terkesan berantakan. Rambut panjangnya hanya diikat asal. Pakaiannya hanya berupa kaus kebesaran dengan celana jeans yang sengaja disobek di beberapa bagian.

Berbeda dengan laki-laki yang dipanggilnya oppa tersebut, namanya Lee Donghae. Dia adalah seorang dokter yang sukses di usianya yang terbilang masih muda, 27 tahun. Donghae selalu tampil rapi, dengan celana kain, kemeja yang lengannya dilipat sampai siku dan tak lupa sepatu pantofel yang selalu disemir setiap pagi.

“Eoh,” jawab Donghae sambil mengacak-acak rambut Yerin. “Tidak ada acara kah hari ini? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?”

“Eung…” Yerin terlihat berpikir sambil mengerucutkan bibirnya.

“Hahaha..” Donghae tertawa dan mencubit pipi Yerin.

“Aww.. appo oppa. Aish, kenapa tertawa?”

“Kau lucu sekali kalau sedang berpikir seperti itu.”

“Ya!!”

“Haha, sudahlah, jadi bagaimana? Ada waktu untuk makan siang bersama?

“Aku rasa aku tidak ada acara siang ini. Tapi oppa, aku nanti akan pulang terlambat, ada hal yang harus ku kerjakan. Apa oppa tidak keberatan untuk menjemputku agak malam?”

“Tidak masalah, toh kalau oppa larang kau juga tidak akan mendengarkan.” Kata Donghae sambil menggandeng kekasihnya ke arah mobil.

Mobil yang mereka kendarai perlahan meninggalkan pelataran kampus tempat Yerin belajar. Mereka menuju sebuah kafe yang sudah biasa mereka kunjungi.

“Oh iya oppa, aku ingin mendaftar program beasiswa di luar negeri. Apakah boleh?” tanya Yerin hati-hati setelah mereka selesai memesan makan siang mereka.

Donghae memicingkan mata, membetulkan letak kacamatanya sambil menyisir rambutnya dengan tangan, sedikit mengacaknya.

“Apa tidak cukup kau berkuliah di universitas terbaik di Korea, Yerin-a?” tanya Donghae dingin, menatap mata Yerin.

Yerin yang ditatap seperti itu hanya bisa menelan ludah dengan susah payah, tergagap dan tidak berani menatap kembali ke dalam mata Donghae. 50% karena takut Donghae memarahinya, 50% sisanya karena gugup. Dia merasa Donghae berkali-kali lipat lebih tampan bila menatapnya seperti itu. Mungkin perbandingannya bukan 50%-50%, mungkin 40%-60% atau bahkan 10%-90%. Yerin tidak tau dan tidak sanggup untuk memikirkan hal itu.

“Bukan begitu oppa. Yah, kau tau oppa, mmm… berkuliah di Inggris adalah cita-citaku sejak lama. Dan ada kesempatan bagiku untuk mendapatkannya kali ini. Jadi….,”

Yerin sedikit melirik ke arah Donghae, dan seketika menyesali keputusannya. Donghae masih menatapnya tajam. “Jadi.. maukah.. oppa… mengijinkanku?” Lanjut Yerin dengan suara yang semakin lama semakin lirih.

Masih menunduk, Yerin merasa dirinya berada di persimpangan antara hidup dan mati. Beruntung, dia diselamatkan oleh pelayan yang datang mengantarkan pesanan mereka berdua.

Terdengar helaan nafas Donghae berat. “Apakah orangtua dan kakakmu sudah mengetahui rencanamu ini?”

“Belum,” Yerin menjawab terlalu cepat, membuat Donghae memicingkan matanya. “Maksudku, mereka selalu menyerahkan semuanya padaku. Jadi kupikir akan mudah meyakinkan mereka.”

“Jadi kau pikir aku sulit untuk diyakinkan?” Donghae terkekeh geli.

“Iya. Tapi bukankah memang benar begitu oppa? Setiap aku ingin melakukan sesuatu pasti ijin darimu yang paling lama kudapatkan.”

“Kau tau, aku melakukan ini karena aku menyayangimu Yerin-a. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu.” Donghae menyisirkan kembali jari-jarinya di kepalanya. “Sudah, makan dulu. Hal itu kita bicarakan lagi nanti.”

Mereka berdua menikmati makan siang mereka dalam diam. Terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Tak tahan dengann sikap diam mereka itu, akhirnya Donghae membuka mulutnya.

“Jadi, hal penting apa yang akan kau kerjakan nanti Yerin-a?”

“Em,eh? Aku harus mencari buku di perpustakaan untuk mengerjakan tugas dari Park Seongsaenim. Uh, kau tau oppa? Dosen yang satu itu sepertinya tidak suka padaku. Dia selalu memberikan tugas yang sulit untukku.”

“Memangnya apa tugas yang diberikan Park Seongsaenim?” tanya Donghae sambil merapikan anak rambut Yerin yang menjuntai di sisi kepalanya.

Gadis itu masih belum berubah, masih tetap gadis yang cuek dengan penampilannya. Walau sudah hampir 3 tahun Donghae berusaha mengubah Yerin menjadi gadis yang lebih anggun. Tapi tidak satupun dari usaha Donghae itu membuahkan hasil.

Dan sekarang lihatlah, cepat sekali mood gadis itu berubah. Tadi memandang Donghae takut-takut seolah Donghae adalah hewan buas yang siap menerkamnya. Sekarang, dengan lincah dan penuh semangat, dia menceritakan masalahnya kepada Donghae.

“Aku diberi tugas untuk merangkum mata kuliah Kalkulus karena aku tidak mengikuti pelajarannya satu kali. Tapi itu kan karena aku diminta oleh Kang Seongsaenim untuk membenarkan laptopnya yang tiba-tiba saja mati.”

Donghae menyimak cerita kekasihnya, sesekali menyeruput kopi pesanannya.

“Lagipula oppa, Kang seongsaenim sudah memintakan ijin kepada Park Seongsaenim kalau aku tidak bisa mengikuti pelajarannya hari itu.”

Yerin tampak diam sejenak. “Atau.. jangan-jangan Kang Seongsaenim lupa memintakan ijin untukku oppa? Eotteokhae?” Yerin tiba-tiba panik, kemudian menggelengkan kepalanya.

“Sudahlah, anggap saja kau mengulang pelajaran dari Park Seongsaenim. Kau ini, katanya mau mendapatkan beasiswa, tapi baru menerima hukuman seperti itu saja sudah menggerutu.”

“Itu kan bukan salahku, oppa..”

“Sudahlah, kerjakan saja. Sebagai hadiahnya nanti kau oppa ajak ke pameran komputer. Bagaimana?”

Mata Yerin langsung berbinar mendengar kata pameran komputer. “Belikan aku satu tablet ya oppa.”

“YAKK!!!!!”

********

“Ah, selesai.”

Yerin membereskan buku dan alat-alat tulisnya. Bersiap pulang setelah sebelumnya menelepon Donghae agar menjemputnya. Setelah menunggu sekitar 15 menit, Donghae datang dengan Bentley silvernya.

“Yerin-a, kau menginginkan sebuah tablet baru?”

“Ya, oppa mau membelikannya? Wah, terimakasih oppa, padahal aku tadi hanya becanda.” Yerin tersenyum tanpa dosa. “Jadi, kapan aku akan mendapatkannya?”

“Bisa diatur, tapi ada satu syarat.”

Yerin mengerutkan keningnya bingung.

“Kau harus ikut ke acara amal, penggalangan dana. Oppa mendapatkan undangan, dan kau harus menjadi pasangan oppa. Acara formal Yerin, jadi kau harus menggunakan gaun.”

“Hah? Apa berarti aku juga harus menggunakan high heels?” Yerin bergidik ngeri.

“Ya. Dan satu lagi, sebetulnya ini bukan persyaratan atau permintaan. Tapi perintah.” Donghae mengedipkan sebelah matanya pada Yerin.

Oh my.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s